Perenang veteran Afrika Selatan Chad le Clos menorehkan nama di buku sejarah Commonwealth Games setelah mengumpulkan medali ke-21 dalam karirnya. Pencapaian ini tercapai usai ia berenang sebagai penutup gaya kupu-kupu di estafet 4x100 medley putra yang menghantarkan tim Afrika Selatan meraih perunggu pada Rabu malam, 29 Juli 2026, di Glasgow, Skotlandia.
Medali perunggu itu menjadi yang ketiga bagi le Clos di edisi ke-23 ini setelah sebelumnya meraih perak di estafet 4x100 medley campuran dan perunggu di estafet 4x100 bebas putra. Koleksi 21 medali itu tersusun dari tujuh emas, lima perak, dan sembilan perunggu yang dikumpulkan sepanjang lima edisi berturut-turut sejak Delhi 2010 hingga Glasgow 2026.
Perjalanan le Clos ke puncak sejarah dimulai di Delhi 2010 saat ia baru berusia 18 tahun, di mana ia pulang membawa lima medali. Empat tahun kemudian di Glasgow 2014 — kota yang kini kembali jadi tuan rumah — ia menambah tujuh medali lagi. Di Gold Coast 2018 ia mengoleksi lima medali, lalu satu medali di Birmingham 2022, sebelum menutup putaran dengan tiga medali di edisi berjalan.
Kendati demikian, le Clos mengakui medali pertamanya di edisi kali ini terasa lebih emosional. "Medali pertama dan kedua di Glasgow kali ini paling berarti karena harus melewati tekanan besar, dan malam ini saya hanya perlu tenang dan menyelesaikan tugas," ujarnya usai lomba. Ia juga mengungkap rasa terharu melihat semangat rekan tim: "Mereka terus berkata 'kami lakukan ini untuk Chad' sebelum turun ke kolam. Itu berarti dunia bagiku."
Pencapaian le Clos menggeser Emma McKeon, perenang Australia yang menyandang 20 medali Commonwealth Games. McKeon sendiri merupakan atletis paling berprestasi di Olimpiade dengan 14 medali, namun di ajang Commonwealth, le Clos kini berdiri sendirian di puncak. Perbandingan ini menarik karena keduanya sama-sama perenang gaya kupu-kutu dan bebas yang mendominasi era yang hampir bersamaan.
Bagi olahraga Indonesia, kisah le Clos menawarkan pelajaran tentang ketahanan karir jangka panjang. Di usia 34 tahun, ia tetap bersaing di tingkat tertinggi meski sudah melewati puncak fisik perenang pada umumnya. Indonesia yang sedang mengembangkan program perenang unggulan — seperti yang ditunjukkan oleh kehadiran Azzahra Permatahani dan Joe Aditya Kurniawan di panggung Asia — bisa mempelajari manajemen beban latihan dan transisi peran dari individu ke estafet yang dilakukan le Clos.
Latar belakang keberhasilan le Clos tak lepas dari pengalaman Olimpikenya. Ia menyensasikan dunia saat mengalahkan Michael Phelps di 200 meter kupu-kupu Olimpiade London 2012 dengan selisih 0,05 detik. Saat itu Phelps sudah 14 kali emas Olimpiade dan tak terkalahkan di nomor itu sejak 2001. Kemenangan itu membuka pintu karir internasional le Clos yang kemudian meraih medali di Rio 2016, serta berkompetisi di Tokyo 2020 dan Paris 2024.
Saat ini le Clos sudah menatap target kelima: Olimpiade Los Angeles 2028. Jika terwujud, ia akan bergabung dengan klub eksklusif perenang yang berkompetisi di lima Olimpiade — langka bahkan di kalangan atlet dunia. Konsistensi menjaga performa di usia yang dinilai "tua" untuk cabang renang menjadi studi kasus menarik bagi pelatih dan ilmuwan olahraga Indonesia.
Di sisi teknis, peran le Clos sebagai penutup gaya kupu-kupu di estafet medley menunjukkan evolusi perannya: dari bintang individu jadi penyeimbang tim. Di Indonesia, strategi serupa mulai diterapkan di SEA Games dan Asian Games, di mana perenang senior ditempatkan di posisi krusial estafet untuk menutupi kelemahan rekan muda. Pendekatan ini butuh kepercayaan tim dan manajemen emosi yang matang.
Commonwealth Games sendiri memiliki struktur unik: hanya diikuti negara-negara Commonwealth of Nations, sehingga persaingannya berbeda dengan Olimpiade atau Kejuaraan Dunia. Australia, Inggris, Kanada, dan Afrika Selatan mendominasi meja medali renang. Faktanya, le Clos adalah satu-satunya perenang non-Australia yang mendominasi rekor medali all-time — bukti dominasi individu di tengah hegemoni tim.
Masa depan le Clos pasca-Glasgow 2026 akan menentukan apakah ia bisa menambah koleksi di Los Angeles 2028. Bagi penggemar renang Indonesia, kisahnya mengingatkan bahwa keunggulan tak selalu soal usia, tapi soal adaptasi, disiplin, dan kemampuan membaca dinamika lomba. Sementara federasi renang Indonesia (PRSI) terus mencetak juara muda, figur seperti le Clos jadi teladan: juara yang tahan lama, tidak cepat puas, dan selalu punya motivasi baru.