Bintang tenis Spanyol, Carlos Alcaraz, memberikan kritik tajam terhadap kebijakan jadwal pertandingan larut malam yang kini menjadi tren di turnamen Grand Slam. Pernyataan ini muncul setelah pengalamannya bertanding hingga pukul 03.34 pagi di US Open, sebuah situasi yang menurutnya tidak ideal bagi performa atlet maupun kenyamanan penonton.
Bagi sebagian besar petenis, kekalahan setelah pertarungan lima set yang melelahkan di jam yang tidak lazim akan memicu rasa frustrasi mendalam. Namun, Alcaraz justru terlihat meninggalkan lapangan dengan senyuman. Baginya, sekadar bisa kembali berkompetisi setelah absen lima bulan akibat cedera pergelangan tangan adalah sebuah kemenangan moral yang jauh lebih berarti daripada hasil akhir pertandingan melawan Ben Shelton tersebut.
Cedera yang membekap Alcaraz sepanjang musim ini memang cukup parah. Ia terpaksa melewatkan turnamen bergengsi seperti Prancis Terbuka dan Wimbledon. Bahkan, keikutsertaannya di New York baru dipastikan hanya seminggu sebelum turnamen dimulai. Baginya, mencapai babak perempat final adalah sebuah anugerah setelah melalui masa pemulihan yang sangat menyiksa.
Fenomena pertandingan larut malam di US Open memang mencapai titik ekstrem tahun ini. Selain laga Alcaraz yang memecahkan rekor waktu berakhir paling lambat dalam sejarah turnamen, juara turnamen Alexander Zverev juga harus bertanding melewati pukul 01.00 pagi dalam tiga dari lima laga awalnya. Bahkan, legenda tenis Venus Williams pernah merampungkan laga babak pertamanya pada pukul 02.00 pagi.
Alcaraz secara terbuka mengusulkan adanya perubahan sistem penjadwalan. Ia berpendapat bahwa batas waktu pertandingan sebaiknya ditetapkan maksimal pukul 23.00 malam. Menurutnya, jika pertandingan dimajukan, tribun penonton akan jauh lebih terisi penuh, dan para atlet dapat menjaga ritme sirkadian mereka agar tetap berada dalam kondisi fisik prima untuk laga selanjutnya.
Isu kebugaran memang menjadi sorotan utama dalam kalender tenis profesional saat ini. Selain Alcaraz, petenis muda Inggris Jack Draper juga mengalami masalah serupa yang memaksanya mengakhiri musim lebih awal. Persaingan sengit di level elit menuntut ketahanan fisik luar biasa, namun tanpa manajemen jadwal yang manusiawi, karier para atlet berbakat ini berisiko terhenti lebih cepat.
Di Indonesia, tantangan serupa sering dihadapi oleh penyelenggara turnamen olahraga nasional. Masalah durasi pertandingan yang panjang sering kali berbenturan dengan ketersediaan infrastruktur dan kenyamanan pendukung. Diskusi yang diangkat Alcaraz ini relevan bagi pengelola turnamen di tanah air untuk mulai memikirkan efisiensi waktu demi menjaga kesehatan atlet sekaligus meningkatkan pengalaman menonton.
Ketergantungan pada siaran televisi global sering menjadi alasan utama mengapa pertandingan diatur hingga larut malam. Namun, jika tren ini terus berlanjut tanpa kompensasi waktu istirahat yang memadai, kualitas permainan di babak-babak akhir turnamen akan mengalami degradasi karena kelelahan kronis yang dialami para pemain.
Menjelang partisipasinya di Laver Cup di London, Alcaraz mengungkapkan kerinduannya pada sosok Jannik Sinner. Rivalitas di antara keduanya telah membagi delapan gelar Grand Slam sepanjang 2024 hingga 2025. Alcaraz mengakui bahwa absennya Sinner di New York akibat cedera lutut terasa sangat nyata, karena keberadaan rival kuat justru memacunya untuk terus berkembang menjadi pemain yang lebih baik.
Laver Cup sendiri menjadi panggung unik bagi Alcaraz. Membela Tim Eropa di bawah kapten Yannick Noah, ia merasakan atmosfer persaudaraan yang berbeda dibandingkan turnamen individu. Baginya, bermain di turnamen beregu memberikan semangat ekstra, di mana kerja sama tim menjadi kunci utama untuk meraih kemenangan di atas lapangan.
Ke depan, Alcaraz berkomitmen untuk lebih selektif dalam memilih turnamen yang akan diikuti. Ia menyadari bahwa menjaga kesehatan mental dan fisik adalah prioritas utama untuk keberlangsungan karier jangka panjang. Langkah ini merupakan bentuk edukasi bagi para atlet muda lainnya agar tidak memaksakan diri di tengah jadwal kompetisi yang padat.
Tren penjadwalan yang lebih ramah bagi atlet tampaknya akan terus menjadi topik perdebatan hangat di kalangan otoritas tenis dunia. Jika para pemain papan atas seperti Alcaraz terus menyuarakan keberatan ini, bukan tidak mungkin organisasi tenis dunia akan segera melakukan revisi aturan demi menciptakan ekosistem olahraga yang lebih berkelanjutan bagi para atlet profesional.