Sepakbola

Buffon Dukung Mancini-Ranieri, Italia Berharap Putus Rantai Kegagalan Piala Dunia

Ringkasan

  • Legenda Italia Gianluigi Buffon mendukung penunjukan Roberto Mancini sebagai pelatih dan Claudio Ranieri sebagai Direktur Teknis, setelah drama mundurnya Paolo Maldini dari FIGC.

Gianluigi Buffon menilai Roberto Mancini sebagai pilihan teknis terbaik untuk mengarahi Timnas Italia. Mantan kiper legenda itu meminta seluruh pemangku kepentingan sepak bola Italia memberikan kepercayaan penuh pada dukungan baru Mancini dan Claudio Ranieri, pasca kekacauan penunjukan pelatih yang melanda Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) belakangan ini.

Kepastian ini muncul setelah Paolo Maldini mundur dari jabatan Direktur Teknis hanya 10 hari setelah dilantik. Maldini gagal merekrut Carlo Ancelotti maupun Pep Guardiola, sementara nama Andrea Pirlo ditolak FIGC karena statusnya sebagai duta perusahaan perjudian Rusia. Situasi ini memperlihatkan retakan internal di tubuh federasi yang akhirnya mengakibatkan Maldini dan penasihatnya Leonardo memilih mundur.

Buffon, yang pernah mengemban jabatan Koordinator Timnas Italia, mengakui adanya keraguan soal penunjukan Ranieri. Namun, mantan kapten Juventus itu menilai jam terbang tinggi mantan pelatih Chelsea dan Leicester City itu layak untuk mengisi posisi yang dinilai sulit tersebut. "Pada akhirnya, Mancini secara teknis adalah pilihan yang terbaik. Dia telah menunjukkan dirinya pantas untuk jadi pelatih timnas," ujar Buffon kepada La Gazzetta dello Sport.

Drama penunjukan pelatih ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar. Kegagalan itu menjadi yang ketiga beruntun bagi Azzurri setelah juga absen di Rusia 2018 dan Brasil 2014. Untuk negara dengan empat gelar dunia, jejak hitam ini menciptakan tekanan masif dari media dan suporter.

Mancini sendiri bukan wajah asing. Ia pernah membawa Italia juara Euro 2020 — gelar besar pertama sejak Piala Dunia 2006 — sebelum mundur pada Agustus 2023 pasca kinerja menurun di kualifikasi Euro 2024. Kembalinya ia ke kursi panas menandakan FIGC mencari stabilitas di tengah ketidakpastian. Sementara Ranieri, berusia 72 tahun, membawa pengalaman melatih di Liga Italia, Premier League, La Liga, dan Ligue 1, serta pernah menjaga Fulham, Valencia, dan AS Monaco.

Dalam konteks sepak bola Indonesia, kasus Italia ini menawarkan pelajaran penting tentang tata kelola federasi. PSSI sendiri pernah mengalami dinamika serupa soal proses rekrutmen pelatih timnas, termasuk keputusan menunjuk pelatih asing versus lokal. Keberhasilan Mancini di Euro 2020 membuktikan bahwa kontinuitas proyek jangka panjang — dia dibangun sejak 2018 — lebih efektif dibanding ganti pelatih instan saat krisis.

Buffon menolak tawaran Maldini dan Leonardo untuk kembali sebagai Direktur Tim Nasional, mengkoordinasikan tim senior dan junior. Ia memilih memprioritaskan waktu bersama keluarga untuk "mengisi ulang energi". Keputusan ini mencerminkan kebutuhan mantar pemain untuk transisi pasca-pensiun, isu yang juga relevan bagi eks pemain Indonesia yang sering terburu-buru ambil jabatan struktural tanpa persiapan manajemen.

Saat ini, fokus Italia hanya satu: lolos ke Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Format baru dengan 48 tim seharusnya memperluas peluang, tapi kualifikasi zona Eropa tetap ketat. Italia berada di Grup I bersama Norwegia, Israel, Estonia, dan Moldova — grup yang pada kertasnya menguntungkan, namun Mancini tahu tidak ada ruang untuk kesalahan.

Sejarah mencatat Italia pernah bangkit dari jurang. Setelah gagal lolos Piala Dunia 1958, mereka juara Euro 1968. Pasca kegagalan 2018, Mancini membangun tim baru yang berakhir dengan gelar Euro 2020. Sekarang, tantangannya lebih berat: memperbaiki citra federasi yang terpecah belah sekaligus menyiapkan generasi baru seperti Nicolo Barella, Federico Chiesa, dan Giacomo Raspadori.

Untuk penggemar sepak bola Indonesia, kisah Italia ini mengingatkan bahwa kebangkitan butuh waktu, stabilitas kepemimpinan, dan kepercayaan pada proses. Tidak ada jalan pintas menuju puncak dunia — baik untuk Azzurri maupun Garuda.

Mengapa Ini Penting

Kembalinya Mancini menandakan FIGC memilih kontinuitas alih-alih eksperimen baru, pelajaran vital bagi PSSI yang sering ganti pelatih saat krisis. Buffon menolak jabatan struktural menunjukkan perlunya transisi karir yang matang bagi eks pemain — isu yang relevan bagi mantan bintang Indonesia yang terburu-buru jadi officiel. Kegagalan Italia lolos tiga Piala Dunia beruntun meski punya sejarah gemilang membuktikan bahwa nama besar saja tidak jamin sukses tanpa tata kelola federasi yang sehat. Format Piala Dunia 2026 dengan 48 tim membuka peluang, tapi Italia tetap harus membuktikan diri di kualifikasi yang kompetitif. Dinamika internal FIGC yang retak pasca mundur Maldini jadi study case nyata bahaya politisasi federasi terhadap performa timnas.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
4 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit