Petarung berdarah Indonesia, Bilal Hasan, tengah bersiap menghadapi momentum paling krusial dalam karier profesionalnya di dunia seni bela diri campuran. Pada 14 November mendatang, atlet berusia 25 tahun itu akan tampil di gelaran UFC 334 yang berlangsung di ikon olahraga dunia, Madison Square Garden, New York.
Bilal dijadwalkan meladeni tantangan Luis Gurule dalam pertarungan kelas terbang atau flyweight. Laga ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan debut Bilal di jajaran Main Card ajang bernomor (numbered event) UFC. Sebuah pencapaian yang menempatkannya selangkah lebih dekat menuju jajaran petarung elit kelas dunia.
Antusiasme Bilal tidak terbendung mengingat lokasi pertarungan yang dipilih adalah arena legendaris. Ia bahkan menyamakan momen ini dengan kenangan historis penampilan musisi idolanya, Michael Jackson, di tempat yang sama. Baginya, Madison Square Garden bukan sekadar arena, melainkan panggung takdir yang akan mencatat namanya dalam sejarah olahraga tarung.
Langkah Bilal menuju panggung UFC 334 bukanlah kebetulan. Ia berhasil mencuri perhatian dunia setelah menundukkan Nilson Rojas dalam debut UFC-nya di Shanghai pada Agustus lalu. Kemenangan tersebut menjadi katalis utama yang membuka pintu bagi Bilal untuk naik ke panggung lebih besar dan lebih prestisius.
Dalam sebuah wawancara dengan Full Mount MMA, Bilal mengungkapkan rasa kagumnya bisa berbagi panggung dengan legenda hidup seperti Stephen Thompson. Ia merasa berada dalam satu rangkaian acara dengan para petarung senior memberikan kebanggaan tersendiri, sekaligus tekanan untuk membuktikan kapasitasnya sebagai generasi baru petarung flyweight yang harus diperhitungkan.
Kehadiran Bilal di UFC memberikan warna tersendiri bagi basis penggemar olahraga tarung di Indonesia. Meski lahir dan besar di Hawaii, identitas Indonesia yang melekat pada dirinya menjadi magnet bagi publik tanah air yang selama ini haus akan representasi petarung lokal di panggung tertinggi UFC.
Di Indonesia, popularitas MMA berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dengan munculnya berbagai promotor lokal. Namun, menembus UFC tetap menjadi tantangan tersendiri bagi petarung dari Asia Tenggara. Keberhasilan Bilal diharapkan mampu menjadi standar baru atau setidaknya membuka jalan bagi atlet MMA Indonesia lainnya untuk berani bermimpi dan berkompetisi di level global.
Secara teknis, kelas terbang yang diikuti Bilal merupakan divisi yang sangat dinamis dengan kecepatan tinggi. Keberhasilannya menembus Main Card menunjukkan bahwa UFC mulai melihat nilai komersial dan potensi teknis yang dimiliki Bilal untuk mendongkrak popularitas divisi flyweight yang sering kali kalah pamor dibandingkan kelas berat atau ringan.
Bilal sendiri memilih untuk tidak terlalu banyak mengumbar strategi mengenai rencana pertarungannya melawan Luis Gurule. Ia lebih memilih untuk fokus pada persiapan mental dan fisik, meyakini bahwa takdirnya untuk bersinar di Madison Square Garden akan terjawab lewat performa di atas octagon nanti.
"Saya merasa ini sudah ditakdirkan. Saya akan menorehkan sejarah lagi," tegas atlet yang dijuluki 'The Indo Ninja' tersebut. Kalimat ini mencerminkan kepercayaan diri yang tinggi, sebuah modal krusial bagi setiap petarung yang ingin bertahan di kerasnya kompetisi UFC.
Jika mampu memenangkan laga ini, Bilal diprediksi akan naik ke peringkat yang lebih baik dalam daftar penantang kelas flyweight. Kemenangan di Madison Square Garden tentu akan meningkatkan posisi tawar Bilal di mata organisasi, baik dari segi penempatan jadwal di masa depan maupun potensi kontrak yang lebih besar.
Ke depan, peran Bilal sebagai duta tidak resmi petarung berdarah Indonesia di UFC akan semakin vital. Jika konsistensi performanya terjaga, tidak menutup kemungkinan bagi UFC untuk mengadakan event di Asia Tenggara atau bahkan Indonesia, yang selama ini menjadi pasar potensial namun belum terjamah secara maksimal oleh promotor besar dunia.