Miami, Amerika Serikat (ANTARA) – Setelah skuad kesayangannya tersingkir dari perempat final lantaran dikalahkan Inggris 1-2 di Stadion Miami, Amerika Serikat, Sabtu (11/7) waktu setempat, suporter tim nasional Norwegia mengenang Piala Dunia 2026 sebagai turnamen yang mahal. Para pendukung negara tersebut bisa menghabiskan setidak-tidaknya sekitar lima ribu dolar AS (Rp90 juta) untuk menonton satu laga langsung di stadion. "Itu salah satu hal negatif dari Piala Dunia kali ini," ujar Eirik, seorang penggemar Norwegia yang mengaku menyaksikan semua pertandingan negaranya selama Piala Dunia 2026.
Eirik, yang berasal dari Oslo, melanjutkan, untuk menonton semua laga Norwegia, ditambah biaya perjalanan dan lainnya, dia harus mengeluarkan kurang lebih 230 ribu dolar AS (Rp4,1 miliar). Pria itu menyadari bahwa itu jumlah yang sangat besar, tetapi tetap merelakannya demi tim nasional Norwegia. Menurut dia, seharusnya FIFA dapat menjual tiket dengan harga lebih murah supaya terjangkau suporter dari semua kalangan. "Oke, saya mengerti permintaan sangat banyak. Namun harga itu terlalu mahal. Seharusnya, mereka menjualnya dengan harga yang ramah suporter," kata Eirik, yang sudah menonton langsung Norwegia sejak Piala Dunia 1998 di Prancis.
Sementara itu, Andreas, seorang penggemar timnas Norwegia yang terbang dari tempat tinggalnya di Spanyol, mesti merogoh kocek sekitar 10-12 ribu dolar AS (Rp180-217 juta) untuk dapat menyaksikan laga Norwegia versus Inggris. "Itu termasuk ongkos perjalanan," tutur Andreas, yang datang bersama dua orang putranya.
Penggemar timnas Norwegia lainnya, Brandon, menyampaikan bahwa dia dan istrinya menggelontorkan 5.500 dolar AS (Rp99 juta) untuk menonton langsung Norwegia melawan Inggris. Padahal, mereka tinggal di Miami. "Itu ditambah semua minuman, ya," kata dia.
FIFA sempat disorot lantaran menjual tiket Piala Dunia 2026 dengan harga tinggi. Untuk laga perempat final Norwegia melawan Inggris, misalnya, tiket termurah dipatok pada 1.677 dolar AS (Rp30 juta) sementara termahal 18.000-an dolar AS (Rp325 juta). Untuk semifinal Piala Dunia 2026, FIFA sudah mematok harga tiket mulai dari 3.000 dolar AS (Rp54 juta) untuk laga Prancis versus Spanyol, Selasa (14/7) serta 4.400 dolar AS (Rp79,5 juta) untuk tiket termurah Inggris menghadapi Argentina, Rabu (15/7). Nilai tiket terus menanjak pada babak berikutnya. Pada perebutan tempat ketiga, Sabtu (18/7), tiket termurahnya adalah 6.260 dolar AS (Rp113 juta), lalu nilai terbawah tiket final, Minggu (19/7), berada di angka 8.500 dolar AS (Rp153 juta).
Tren kenaikan harga ini mencerminkan biaya operasional stadion yang semakin tinggi, investasi infrastruktur, serta strategi pendapatan FIFA yang agresif. Meskipun demikian, hal ini menimbulkan kekhawatiran akan aksesibilitas bagi penggemar dari berbagai lapisan ekonomi. Banyak suporter yang harus mengorbankan anggaran lain atau bahkan tidak dapat menyaksikan pertandingan secara langsung.
Bagi penggemar di Indonesia, situasi ini semakin mempertegas kesenjangan. Harga tiket yang mencapai ratusan juta rupiah tentu tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat. Industri olahraga di dalam negeri pun tertantang untuk menciptakan alternatif, seperti layanan streaming legal atau paket perjalanan hemat, agar fans tetap dapat merasakan euforia Piala Dunia tanpa beban finansial yang berlebihan.
Munculnya diskusi tentang harga tiket yang ramah penggemar mendorong pertimbangan ulang kebijakan FIFA. Solusi seperti alokasi kuota tiket murah, kerja sama dengan asosiasi sepak bola lokal, atau penerapan dynamic pricing yang mempertimbangkan daya beli pasar dapat menjadi langkah maju. Selain itu, regulasi yang lebih ketat terhadap pasar tiket sekunder juga dapat mengurangi eksploitasi harga yang merugikan penggemar.
Secara keseluruhan, pengalaman suporter Norwegia menjadi cerminan pentingnya keseimbangan antara pendapatan turnamen dan keterjangkauan bagi penggemar. Piala Dunia mendatang harus dapat dinikmati tidak hanya oleh mereka yang mampu, tetapi juga oleh pendukung yang menghidupkan semangat olahraga ini di seluruh dunia.