Sepakbola

Bhayangkara FC Sasak Tiga Besar Super League, Gubernur Lampung Dorong Ambisi

Ringkasan

  • Bhayangkara FC meluncurkan tim untuk musim Super League 2026/2027 dengan target finis tiga besar, naik dari posisi kelima musim lalu di bawah pelatih baru Oscar Bruzon.

Bhayangkara FC secara resmi memperkenalkan susunan pemain dan staf pelatih untuk mengarungi kompetisi Super League musim 2026/2027 melalui acara peluncuran di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, Sabtu (29/8). Acara itu menjadi momentum klub berjuluk The Guardians untuk mengumumkan target yang lebih agresif dibanding musim sebelumnya: menembus tiga besar klasemen akhir.

Target itu tidak diucapkan oleh manajemen klub semata, melainkan langsung diungkapkan oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang hadir sebagai tamu kehormatan. Di depan puluhan suporter dan media, Rahmat menegaskan bahwa setelah musim gemilang dengan finis kelima dan raihan 53 poin dari 34 laga, kini saatnya untuk menaikkan standar. "Musim ini kami meningkatkan target yang lebih besar," ucapnya sambil mencolek COO Bhayangkara FC, Sumardji, yang turut hadir di podium.

Musim 2025/2026 memang menjadi bukti progresif bagi Bhayangkara. Posisi kelima dengan total 53 poin menempatkan mereka di zona atas, hanya tertinggal dari empat tim papan atas tradisional. Koleksi poin itu juga mencerminkan konsistensi yang jarang dimiliki tim menengah kebawah — hanya kalah 9 kali dan menang 15 kali. Fundamen itu menjadi modal percaya diri untuk menargetkan lompatan signifikan.

Namun, jalan menuju tiga besar tidak akan mulus. Tiga musuh utama yang duduk di puncak klasemen musim lalu — Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Borneo FC — tidak akan diam. Ketiganya telah memperkuat skuad secara masif di bursa transfer, baik rekrutan lokal maupun asing, dengan anggaran yang jauh melampaui kapasitas Bhayangkara. Persib misalnya merekrut pelatih bergengsi dan pemain naturalisasi, sedangkan Persija dan Borneo FC mengejar stabilitas jangka panjang melalui proyek akademi dan kontrak panjang.

Di sinilah peran Oscar Bruzon menjadi krusial. Pelatih asal Spanyol itu dikenal dengan gaya permainan berbasis posse dan tekanan tinggi, filosofi yang ia bawa dari pengalaman melatih di India dan Afrika. Ia harus merapikan sistem pertahanan yang musim lalu kebocoran 42 gol — angka tertinggi di antara lima besar — sambil memaksimalkan lini depan yang hanya mencetak 48 gol. Efisiensi di kotak penalti akan menentukan apakah target tiga besar realistis atau sekadar slogan.

Penguatan skuad pun sudah dilakukan manajemen. Beberapa nama baru direkrut untuk mengisi kelemahan posisi sayap dan gelandang tengah defensif, area yang dinilai kurang mendukung transisi cepat musim lalu. Meskipun daftar nama belum dipublikasikan sepenuhnya, sumber internal mengindikasikan adanya dua rekrutan asing berkualitas Liga 1 dan tiga pemain U-23 dari klub-klub papan atas yang butuh menit bermain. Strategi ini mencerminkan pendekatan pragmatis: campuran pengalaman dan kelapangan.

Dampak target ini melampaui sekadar klasemen. Sukses menembus tiga besar berarti Bhayangkara FC akan meraih tiket kompetisi Asia — AFC Champions League Two atau AFC Challenge League — yang selama ini menjadi momok bagi klub-keluarga Polri/TNI. Partisipasi internasional tidak hanya membawa hadiah finansial berupa prize money dan hak siar, tapi juga menarik sponsor premium yang menuntut eksposur lintas negara. Bagi manajemen klub, ini adalah langkah strategis menuju mandiri finansial.

Di sisi lain, kehadiran Gubernur Lampung dalam peluncuran menandakan komitmen pemerintah daerah yang semakin kuat. Stadion Sumpah Pemuda yang baru direnovasi dengan standar FIFA menjadi bukti nyata dukungan infrastruktur. Lampung ingin menjadikan Bhayangkara sebagai ikon olahraga daerah yang mampu bersaing nasional, mirip model Persib untuk Jawa Barat atau Borneo FC untuk Kalimantan. Keberhasilan klub berdampak langsung pada pariwisota dan ekonomi lokal di hari pertandingan.

"Kami tidak hanya mengejar angka di tabel klasemen," ujar Sumardji dalam wawancara terpisah setelah acara. "Kami membangun budaya menang yang berkelanjutan. Oscar diberi mandat dua musim dengan evaluasi per putaran. Jika sistem berjalan, hasil akan mengikuti." Pernyataan ini menunjukkan pergeseran paradigma: dari orientasi hasil instan ke pembangunan jangka menengah — langkah matang yang jarang dilakukan klub Indonesia.

Tantangan tersendiri hadir dari jadwal padat. Super League 2026/2027 dijadwal kick-off awal Oktober, hanya sebulan setelah peluncuran. Waktu preparasi singkat memaksa Bruzon untuk mempercepat adaptasi taktis. Liga juga menerapkan aturan baru batas pemain asing dan wajib main U-23 yang memaksa rotasi kader. Kedalaman skuad akan diuji di putaran kedua ketika kelelahan dan cedera mulai menyerang.

Proyeksi ke depan, Bhayangkara FC memiliki peluang realistis jika memanfaatkan momentum awal. Lima laga pertama melawan lawan menengah-bawah bisa jadi penentu ritme musim. Jika mampu mengumpulkan minimal 10 poin dari laga-laga itu, kepercayaan diri tim akan terbangun sebelum menghadapi derbi lawan papan atas. Kunci lain ada di konsistensi performa di kandang — Stadion Sumpah Pemuda harus dijadikan benteng yang sulit ditembus, dengan dukungan suporter Lampung yang semakin masif.

Bagi pecinta sepak bola Indonesia, kisah Bhayangkara musim ini menjadi barometer apakah klub dengan struktur kepemilikan institusional (Polri) mampu bersaing adil dengan klub-keluarga konglomerat. Jika The Guardians sukses menembus tiga besar, narasi "klub negara tidak bisa juara" akan pecah. Itulah alasan mengapa musim ini tidak hanya soal poin, tapi soal membuktikan model manajemen klub profesional Indonesia bisa berkembang.

Mengapa Ini Penting

Target tiga besar Bhayangkara FC bukan sekadar ambisi klasemen, melainkan uji coba model manajemen klub berbasis institusi (Polri) di era profesionalisme penuh. Jika berhasil, ini membuktikan klub tanpa backing konglomerat bisa bersaing adil lewat struktur organisasi yang jelas, rekrutmen berbasis data, dan dukungan pemerintah daerah yang berkelanjutan. Keberhasilan ini juga akan membuka pintu tiket kompetisi Asia bagi klub-kepolisian/TNI lain, mengubah lanskap kekuasaan sepak bola Indonesia yang didominasi klub-keluarga kaya. Lebih jauh, proyek ini menjadi teladan bagi PSSI dalam mendorong good governance klub melalui licensing berbasis performa, bukan hanya administrasi.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
29 Agustus 2026
Waktu Baca
6 menit