Jude Bellingham menjelma menjadi pahlawan bagi Inggris dengan mencetak dua gol krusial yang membawa The Three Lions bangkit dari ketertinggalan untuk mengakhiri perjalanan bersejarah Norwegia dan melaju ke semifinal Piala Dunia. Kemenangan dramatis 2-1 diraih Inggris atas Norwegia dalam laga perempat final yang harus diselesaikan melalui babak perpanjangan waktu, di tengah cuaca Miami yang terik.
Dalam penampilan perempat final pertama mereka di ajang Piala Dunia, Norwegia sempat mengejutkan publik sepak bola dunia ketika Andreas Schjelderup berhasil menggetarkan jala gawang Inggris di awal pertandingan. Gol tersebut tercipta di bawah terik matahari Miami yang menyengat pada hari Sabtu, menambah intensitas pertandingan yang sudah sarat tekanan.
Namun, Jude Bellingham, yang sebelumnya juga tampil gemilang dengan dua gol saat Inggris mengalahkan Meksiko 3-2 di babak 16 besar, kembali menunjukkan magisnya. Ia berhasil menyamakan kedudukan sesaat sebelum turun minum, memberikan suntikan moral berharga bagi timnya dan memupus keunggulan awal Norwegia.
Memasuki babak kedua, Norwegia sempat merasa unggul lagi melalui gol yang dicetak Erling Haaland. Namun, gol tersebut dianulir secara kontroversial setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR). Keputusan diambil setelah wasit menilai ada pelanggaran yang dilakukan Haaland terhadap pemain Inggris sebelum bola masuk ke gawang. Situasi ini semakin menegaskan betapa ketatnya pertandingan, di mana kedua tim dipaksa mengerahkan kemampuan fisik maksimal hingga harus melanjutkan laga ke babak perpanjangan waktu.
Di babak perpanjangan waktu, Bellingham kembali menjadi penentu. Ia memanfaatkan kesalahan fatal kiper Norwegia, Orjan Nyland, yang gagal mengamankan bola. Dengan sigap, Bellingham menyambar bola liar tersebut dan menceploskannya ke gawang kosong, mencetak gol keenamnya di turnamen ini dan memastikan kemenangan Inggris.
Kemenangan ini membawa Inggris selangkah lebih dekat untuk mengakhiri penantian panjang meraih gelar Piala Dunia. Mereka dijadwalkan akan menghadapi pemenang antara Argentina atau Swiss pada hari Rabu untuk memperebutkan tiket ke final, yang jika berhasil mereka raih akan menjadi final Piala Dunia pertama Inggris dalam 60 tahun terakhir.
Bagi Erling Haaland, pertandingan ini menjadi akhir dari rentetan impresifnya mencetak gol dalam 14 pertandingan kompetitif terakhir untuk Norwegia. Pemain yang memiliki ikatan darah dengan Inggris ini, yang digantikan di paruh waktu perpanjangan waktu, tidak mampu menambah pundi-pundi golnya. Ini menjadi catatan menarik mengingat Norwegia, yang sebelumnya kesulitan memenangkan laga knockout Piala Dunia setelah tertinggal lebih dulu (sejak final 1966), kini berhasil melakukannya dua kali dalam tiga pertandingan terakhir.
Kondisi cuaca yang ekstrem di Miami menjadi tantangan tersendiri. Pertandingan yang dimulai pukul 17:00 waktu setempat (21:00 GMT) membuat suhu udara tetap di atas 30 derajat Celsius dengan kelembapan tinggi, menciptakan kondisi yang sangat menguras tenaga bagi para pemain. Bahkan di babak pertama, cuaca panas ini sempat membuat permainan kedua tim terlihat terpengaruh. Peluang emas sempat didapat Alexander Sorloth dari Norwegia, namun ia menyia-nyiakannya.
Di tengah tekanan dan kondisi fisik yang menurun, manajer Inggris, Thomas Tuchel, melakukan perubahan taktis dengan memasukkan Bukayo Saka dan Eberechi Eze di awal babak kedua, menggantikan Noni Madueke dan Declan Rice yang dinilai kurang efektif serta Rice yang dikabarkan kurang fit. Namun, perubahan ini justru membuat lini tengah Inggris sedikit rapuh.
Di babak perpanjangan waktu, Norwegia kembali nyaris mencetak gol melalui Kristoffer Ajer yang tendangannya membentur mistar gawang setelah Inggris gagal mengantisipasi sepak pojok. Namun, kegagalan mereka untuk memanfaatkan peluang tersebut akhirnya harus dibayar mahal. Orjan Nyland, yang sebelumnya tampil gemilang di babak 16 besar, kali ini menjadi sorotan karena blunder yang berujung pada gol kemenangan Bellingham.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, mengakui bahwa timnya beruntung bisa memenangkan pertandingan ini. "Kami membuat diri kami sendiri sangat, sangat sulit hari ini. Hasilnya fantastis. Kami ada di empat besar. Ini luar biasa, tetapi saya tidak senang dengan performanya," ujar Tuchel kepada ITV. Ia menambahkan, "Komitmennya ada, tetapi kami membuat diri kami sendiri sulit dengan cara kami bermain – ceroboh, banyak kesalahan teknis, tidak cukup cepat, tidak cukup repetitif. Kami beruntung hari ini. Ini tentang kualitas – kami harus bermain lebih baik. Kami akan menjadi lebih baik di semifinal. Kami harus."