Tim nasional Belgia secara terbuka merangkul status mereka sebagai tim non-unggulan (underdog) menjelang laga krusial perempat final Piala Dunia melawan Spanyol yang akan berlangsung di Los Angeles, Jumat mendatang. Pelatih Belgia, Rudi Garcia, menyatakan keyakinan penuh terhadap kualitas lini serang dan mentalitas skuadnya untuk menciptakan kejutan besar dengan menumbangkan juara Eropa tersebut.
Spanyol memasuki turnamen ini dengan label sebagai salah satu favorit juara. Setelah sempat memulai kompetisi dengan tempo yang lamban, La Furia Roja berhasil menunjukkan dominasi mereka melalui kemenangan telak 3-0 atas Austria di babak 32 besar. Kemenangan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa mesin permainan mereka telah kembali ke performa terbaik, yang tentu saja menjadi tantangan berat bagi Belgia.
Dalam konferensi pers, terdapat kontras gaya kepemimpinan antara kedua pelatih. Jika pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, cenderung filosofis dengan mengutip kaisar Romawi Marcus Aurelius, Rudi Garcia lebih memilih pendekatan berbasis data dan manajemen skuad. Garcia menyadari betul bahwa Spanyol adalah tim dengan penguasaan bola terbaik yang konsisten mempertahankan identitas permainan mereka selama hampir dua dekade terakhir.
Namun, Garcia tidak gentar. Ia menyoroti statistik produktivitas timnya yang impresif, di mana Belgia tercatat sebagai tim tersubur kedua di turnamen ini dengan koleksi 13 gol. Statistik ini memberikan kepercayaan diri bagi Belgia untuk menghadapi Spanyol, yang meskipun memiliki ekspektasi gol (expected goals) tertinggi, tetap memiliki celah yang bisa dimanfaatkan melalui skema serangan balik cepat.
Veteran penyerang Belgia, Romelu Lukaku, menekankan bahwa timnya tidak akan bermain sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Pemain berusia 33 tahun ini menegaskan bahwa setiap pemain Belgia saat ini memiliki motivasi tinggi untuk melangkah lebih jauh. Baginya, kunci menghadapi tim seperti Spanyol adalah kesempurnaan taktis dan ketenangan dalam membaca alur bola lawan.
Lukaku juga menjelaskan perannya yang telah didefinisikan ulang melalui diskusi panjang dengan Garcia sejak bulan April lalu. Fokusnya kini bukan lagi pada pencapaian individu atau gelar top skor, melainkan pada bagaimana ia dapat memberikan kontribusi maksimal bagi kolektivitas tim, baik di dalam maupun di luar lapangan. Ia menekankan pentingnya menggunakan kecerdasan bermain di fase karier profesionalnya saat ini.
Selain tantangan teknis, Belgia juga bersiap menghadapi atmosfer stadion yang kemungkinan besar akan memihak lawan. Setelah berhasil menyingkirkan Amerika Serikat dengan skor 4-1 di Seattle di tengah sorakan penonton yang memusuhi mereka, Garcia menegaskan bahwa mentalitas pemainnya sudah teruji. Baginya, penonton tidak mencetak gol, dan fokus utama tim tetap pada eksekusi taktik di lapangan.
Menutup persiapan mereka, Belgia tetap rendah hati namun ambisius. Meskipun secara peringkat dan sejarah pertemuan mereka dianggap sebagai pihak yang tidak diunggulkan, Garcia berkomitmen untuk memberikan perlawanan sengit. Pertandingan ini diprediksi akan menjadi ujian sesungguhnya bagi efektivitas serangan Belgia melawan disiplin pertahanan dan penguasaan bola Spanyol yang legendaris.