Kepergian Ferran Torres menuju Paris Saint-Germain meninggalkan lubang besar di lini depan Barcelona. Selama dua musim terakhir, pemain asal Spanyol itu mengisi posisi nomor 9 meski posisinya alami adalah sayap. Kini skuad Hansi Flick tidak memiliki satupun striker tradisional di daftar pemain senior, situasi yang jarang dialami klub raksasa LaLiga.
Daftar penyerang yang tersedia kini didominasi winger: Lamine Yamal, Anthony Gordon, Karim Adeyemi, dan Dani Olmo. Tidak ada profil penyerang tengah klasik yang mampu menjadi referensi di kotak penalti. Olmo, yang kemampuannya serba bisa, diproyeksikan sebagai false nine — peran yang memang tidak asing bagi Barcelona di era Lionel Messi, namun kali ini tanpa adanya alternatif asli di bangku cadangan.
Krisis ini bermula dari kebijakan transfer musim panas yang memprioritaskan penjualan untuk memenuhi aturan *fair play* finansial LaLiga. Torres dijual ke PSG dengan nilai sekitar 40 juta euro, dana yang dialokasikan untuk memperkuat sektor lain. Namun keputusan melepas satu-satunya penyerang tengah tanpa pengganti siap pakai menciptakan risiko taktis yang signifikan, mengingat jadwal padat Liga Champions, LaLiga, dan Copa del Rey.
Hansi Flick dikenal fleksibel dalam mengatur formasi, sering beralih antara 4-2-3-1 hingga 3-4-2-1 yang memungkinkan false nine berfungsi optimal. Ia pernah mengandalkan Thomas Müller dalam peran serupa di Bayern Munich. Namun di Barcelona, beban gol terlalu berat diletakkan pada bahu Lamine Yamal (17 tahun) dan Raphinha, sementara Olmo sendiri baru pulih dari cedera dan belum sepenuhnya match-fit.
Di sisi lain, Julian Alvarez tetap menjadi target utama. Atletico Madrid mematok harga 80 hingga 90 juta euro dan menolak negosiasi dengan rival langsung. *Los Colchoneros* justru baru merekrut Conor Gallagher dan Alexander Sorloth, menandakan mereka tidak berniat melepaskan *La Araña* kecuali ada penawaran *buyout clause* yang memuaskan. Barcelona mengandalkan keinginan Alvarez sendiri yang dikabarkan ingin pindah untuk mendapat waktu main lebih banyak.
Sementara menunggu kabar dari Madrid, Barcelona menoleh ke akademi. Hamza Abdelkarim, penyerang tengah berusia 18 tahun keturunan Mesir, dipromosikan ke latihan tim senior. Pemain yang dikenal cepat dan memiliki insting gol tajam ini masih butuh waktu adaptasi. Memasangnya sebagai andalan di kompetisi elit sejak awal musim adalah taruhan berisiko yang Flick cenderung hindari.
Ketidakpastian ini menciptakan tekanan psikologis di ruang ganti. Pemain senior seperti Robert Lewandowski — yang kontraknya berakhir Juni 2026 — kini tidak memiliki pendamping alami. Jika Lewandowski cedera atau *out of form*, Barcelona tidak memiliki *plan B* yang kredibel. Musim lalu, ketidakstabilan form Lewandowski di fase kedua sempat mengganggu gelar juara, dan situasi serupa berpotensi terulang.
Dari perspektif komersial, kehadiran striker berbintang juga memengaruhi penjualan jersey dan daya tarik sponsor. Alvarez, berusia 24 tahun dan sudah memenangkan Piala Dunia, menawarkan *marketability* global yang cocok dengan strategi Barcelona pasca-pandemi. Gagal merekrutnya berarti klub harus bertahan dengan sumber daya internal hingga Januari, saat bursa transfer musim dingin dibuka kembali.
Flick dalam konferensi pers pekan lalu menegaskan kepercayaan pada *squad* yang ada, namun mengakui "kita selalu terbuka untuk peluang pasar". Pernyataan itu dibaca sebagai sinyal bahwa manajemen sport Deco masih berusaha keras di meja negosiasi. Batas waktu 1 September membuat posisi Barcelona lemah: Atletico tahu Barcelona *desperate*, sehingga harga tidak akan turun.
Jika Alvarez gagal didatangkan, skenario paling realistis adalah Flick memaksimalkan Olmo sebagai false nine dengan rotasi Yamal dan Gordon di sayap, serta mempromosikan Abdelkarim ke tim utama bertahap. Pendekatan ini mirip strategi Pep Guardiola era 2008-2009 yang mengandalkan Messi false nine tanpa striker alami — namun tim saat itu memiliki Xavi, Iniesta, dan Henry di puncak performa.
Musim 2024-2025 akan menjadi ujian karakter bagi proyek Flick. Keberhasilan tanpa nomor 9 alami akan membuktikan fleksibilitas taktis pelatih Jerman, kegagalan justru akan memvalidasi kritik soal manajemen transfer yang terburu-buru. Sepanjang Agustus, mata seluruh *culé* tertuju ke meja negosiasi Deco dan Gil Marín — apakah *La Araña* akan terbang ke Catalonia, atau Barcelona harus berperang dengan senjata yang ada.