Tangerang — Atlet-atlet Indonesia yang bertanding dalam cabang teqbal, pentathlon modern, dan triathlon pada Asian Games 2026 Aichi-Nagoya telah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa malam. Mereka pulang dengan koleksi medali yang menunjukkan perkembangan signifikan, meski masih menyisakan catatan penting untuk diperbaiki ke depan.
Kontingen Indonesia membawa pulang medali perak dan perunggu dari cabang teqbal, olahraga yang menggabungkan elemen tenis meja dan sepak takraw. Yoga Ardika Putra menjadi salah satu nama yang tampil gemilang dengan meraih medali perunggu, sementara rekannya, Sumaya, mengangkat medali perak — satu-satunya perak yang diraih Indonesia hingga Rabu pagi. Secara keseluruhan, Indonesia mengoleksi tujuh medali perunggu dari berbagai cabang pada ajang tersebut.
Teqbal sendiri merupakan cabang olahraga yang baru pertama kali dipertandingkan di Asian Games. Keikutsertaannya menandai babak baru bagi Indonesia dalam mengembangkan disiplin olahraga hybrid yang belum banyak dikenal di kancah internasional. Keberhasilan meraih medali di kelas olahraga baru ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu bersaing bahkan pada debut pertandingan besar.
Di sisi lain, tim pentathlon modern Indonesia menunjukkan performa yang patut diapresiasi meskipun belum mampu meraih medali. Seluruh atlet berhasil masuk ke babak final, dengan atlet putri menjadi satu-satunya perwakilan ASEAN yang mencapai tahap tersebut. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Modern Pentathlon Indonesia, Marsekal Pertama TNI Ridwan Gultom, mengakui bahwa kekalahan dalam final terjadi karena lawan jauh lebih berpengalaman. Timnas MPI sendiri baru terbentuk sekitar dua tahun lalu, sehingga pencapaian ini dianggap sebagai kemajuan yang berarti.
Triathlon juga gagal meraih medali, namun target yang ditetapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk masuk lima besar berhasil dipenuhi. Pelatih triathlon, Wahyu Hidayat, menjelaskan bahwa para atlet kehilangan beberapa momen penting dalam pertandingan internasional sebelum bertanding di Asian Games, yang berdampak pada performa. Martina Ayu Pratiwi tampil di nomor perseorangan putri dan berhasil masuk empat besar, sementara tim estafet beregu campuran menduduki peringkat kelima.
Keberhasilan Indonesia di teqbal membuka peluang besar bagi pengembangan olahraga ini di tanah air. Cabang yang relatif muda ini menawarkan ruang tumbuh yang luas karena belum banyak negara yang menguasainya secara mendalam. Indonesia yang mampu meraih medali sejak debut Asian Games berpotensi menjadi salah satu kekuatan utama teqbal di kawasan Asia.
Program pentathlon modern Indonesia juga menunjukkan momentum yang positif. Meski baru berdiri selama dua tahun, keberhasilan seluruh atlet masuk final membuktikan bahwa latihan terstruktur dan pembinaan yang intensif dapat mempercepat kemajuan atlet. Atlet putri yang menjadi satu-satunya perwakilan ASEAN di final menjadi bukti konkret bahwa Indonesia mulai menancapkan diri di pentathlon kancah regional.
Bagi triathlon, target lima besar yang tercapai menunjukkan konsistensi program pembinaan meski medali masih menjadi incaran. Kemenpora telah menetapkan target individual empat besar dan keseluruhan lima besar, yang keduanya berhasil dipenuhi. Pencapaian ini menjadi dasar kuat untuk mengejar podium pada edisi berikutnya.
Yoga Ardika Putra mengungkapkan kebanggaannya setelah meraih medali perunggu. "Hasil yang kami raih sudah sesuai dengan target, yaitu membawa pulang medali. Dan tentunya, kami bangga bisa meraih medali di ajang sebesar ini," ujar Yoga dengan wajah berbinar-binar. Pernyataannya mencerminkan semangat tim yang telah bekerja keras menjelang ajang bergengsi tersebut.
Ridwan Gultom menegaskan bahwa prestasi tim pentathlon masih perlu ditingkatkan. "Secara umum sebenarnya kita sudah mendapat prestasi, jadi kalau untuk yang putri, satu-satunya atlet di ASEAN yang masuk final, kemudian seluruh atlet kemampuannya meningkat," ujarnya. Sementara Wahyu Hidayat menambahkan bahwa timnya tetap bersyukur mampu memenuhi target Kemenpora meski sempat mengalami kendala.
Ke depannya, setiap cabang olahraga yang tergabung dalam kontingen Indonesia telah menyatakan komitmen untuk mengevaluasi seluruh kekurangan yang ditemui selama Asian Games. Evaluasi ini menjadi langkah awal untuk menyusun program latihan yang lebih tajam dan strategis. Tren peningkatan prestasi di cabang-cabang olahraga baru menunjukkan bahwa Indonesia serius membangun ekosistem atlet yang kompetitif.
Bagi industri olahraga Indonesia, keberhasilan di teqbal dan kemajuan pentathlon membuka peluang investasi serta sponsor baru. Cabang olahraga yang sedang berkembang ini menarik perhatian karena potensinya yang besar di panggung internasional. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, Indonesia tidak hanya akan menjadi pesaing di kawasan, tetapi juga calon kekuatan global di cabang-cabang olahraga yang sedang bermunculan ini.
Terlepas dari hasil akhir, Asian Games 2026 telah menjadi batu loncatan bagi Indonesia dalam membangun kekuatan olahraga di berbagai disiplin. Perpaduan antara cabang tradisional dan olahraga hybrid memberikan warna baru bagi kontingen merah putih, sekaligus menjadi motivasi bagi generasi atlet muda yang ingin berprestasi di kancah dunia.