AS Roma tampil trengginas pada pekan kedua Liga Italia musim 2026/2027. Bertandang ke markas Lecce di Stadion Via del Mare, Selasa (1/9/2026) dini hari WIB, skuad asuhan I Lupi sukses memetik kemenangan telak dengan skor 4-0. Kemenangan ini sekaligus mengantarkan mereka bertengger di puncak klasemen sementara.
Dominasi Roma sudah terlihat sejak peluit babak pertama dibunyikan. Baru empat menit laga berjalan, publik tuan rumah terdiam setelah Donyell Malen mencetak gol pembuka. Memanfaatkan kesalahan sapuan bek Lecce, Kialonda Gaspar, Malen dengan dingin menaklukkan kiper Wladimiro Falcone.
Keunggulan tersebut justru membuat intensitas serangan Roma semakin meningkat. Pada menit ke-23, Malen kembali mencatatkan namanya di papan skor. Berawal dari skema kerja sama apik antara Matias Soule dan Wesley Franca, penyerang asal Belanda itu melepaskan tap-in yang membuat Falcone tak berkutik untuk kedua kalinya.
Belum sempat Lecce bangkit dari tekanan, gawang mereka kembali koyak dua menit berselang. Kali ini Matias Soule menunjukkan ketajamannya. Meski tembakan pertamanya sempat diblok Falcone, Soule dengan sigap menyambar bola muntah untuk mengubah kedudukan menjadi 3-0 yang bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Roma tidak mengendurkan serangan meski sudah unggul telak. Pelatih melakukan rotasi dengan memasukkan Rodrigo Mora pada menit ke-60. Keputusan ini terbukti jitu, karena lima menit berselang, Mora sukses mengonversi umpan matang Gianluca Mancini menjadi gol keempat bagi I Lupi.
Hasil positif ini menempatkan Roma di posisi teratas klasemen sementara dengan raihan enam poin dari dua pertandingan. Mereka unggul selisih gol dari para pesaing ketat lainnya seperti Inter Milan, AC Milan, Juventus, dan Lazio yang juga mengoleksi poin serupa, menandakan awal musim yang sangat kompetitif di Serie A.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Lecce. Mereka kini terdampar di posisi ke-13 dengan baru mengumpulkan tiga poin. Bagi tim papan tengah seperti Lecce, konsistensi di lini belakang menjadi pekerjaan rumah utama setelah gagal mengantisipasi tekanan agresif dari lini serang Roma.
Secara taktis, performa Roma menunjukkan kedalaman skuad yang mumpuni. Kehadiran pemain baru dan rotasi yang dilakukan pelatih terbukti tidak menurunkan kualitas permainan. Hal ini menjadi sinyal bahaya bagi tim-tim besar lainnya bahwa Roma serius dalam perburuan Scudetto musim ini.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, tren permainan menyerang yang diperagakan Roma bisa menjadi cerminan bagaimana efektivitas transisi cepat sangat menentukan hasil akhir. Di liga lokal seperti Liga 1, banyak tim yang masih kesulitan menjaga konsentrasi di menit-menit awal, berbeda dengan Roma yang langsung tancap gas sejak menit pertama.
Analis sepak bola sering menekankan bahwa kesuksesan di dua laga awal adalah fondasi penting untuk menjaga moral tim sepanjang musim. Dengan produktivitas empat gol per laga, Roma menunjukkan bahwa mereka memiliki daya ledak yang cukup untuk mengimbangi tim-tim besar Italia lainnya.
Menatap laga selanjutnya, Roma tentu akan berupaya mempertahankan tren positif ini. Ujian sesungguhnya akan datang saat mereka harus berhadapan dengan tim-tim yang memiliki pertahanan lebih solid. Namun, dengan kolektivitas yang ditunjukkan Malen dan rekan-rekan, kepercayaan diri tim saat ini berada di level tertinggi.
Sementara itu, Lecce harus segera melakukan evaluasi menyeluruh. Pelatih mereka tentu akan menyoroti kerapuhan pertahanan yang membuat mereka kebobolan empat gol tanpa balas. Tanpa perbaikan instan, mereka berisiko terus melorot ke papan bawah klasemen jika tidak segera menemukan ritme permainan yang stabil.