Arsenal memasuki musim baru Premier League dengan label juara bertahan — posisi yang selama ini lebih sering jadi beban psikologis daripada keuntungan. Sejak era Pep Guardiola di Manchester City membuat pertahanan gelar terlihat rutin, hanya dua manajer sebelum dia yang berhasil melakukannya di era Premier League: Sir Alex Ferguson di Manchester United dan Jose Mourinho di Chelsea. Kini Mikel Arteta berusaha menambahkan namanya ke daftar eksklusif itu, sambil mengayomi skuad yang relatif utuh namun kehilangan pilar pertahanan William Saliba untuk jangka panjang.
Kontinuitas jadi aset terbesar Arsenal. Arteta tetap di kiprok, sementara keempat rival besar — Manchester City, Liverpool, Chelsea, dan Tottenham — memulai musim dengan manajer baru. Enzo Maresca mewarisi warisan Guardiola di City, Xabi Alonso membawa reputasi juara tak terkalahkan dari Bayer Leverkusen ke Stamford Bridge, Roberto de Zerbi mencoba membangun identitas baru di Spurs, dan Michael Carrick menjalani musim penuh pertamanya di Old Trafford. Ketidakpastian di bancang lawan seharusnya jadi peluang, tapi transfer window justru memperlihatkan gambaran lain.
Sejarah mengingatkan betapa sulitnya mempertahankan tahta. Leicester City 2015-16 jadi teladan pahit: setelah mengejutkan dunia, mereka justru berjuang di zona degradasi musim berikutnya. Satu pemain Foxes pernah mengungkapkan perasaan itu ke The Guardian: "Menang liga seperti mendaki Everest. Baru turun, dapat tepuk tangan, lalu disuruh mendaki lagi." Andros Townsend, bekas sayap Premier League, menilai Liverpool pun gagal mereplikasi kejuaraan di dua kali mereka juara — masing-masing finis ketiga dan kelima. Pertanyaannya sederhana: apakah pemain Arsenal masih punya kelaparan yang sama setelah merasakan kelegaan menjuarai?
Arteta berusaha menjawab pertanyaan itu dengan rekrutmen bermakna. Kedatangan Christos Tzolis dari Club Brugge senilai £34 juta dan, yang lebih krusial, Bruno Guimaraes dari Newcastle United dengan tag £75 juta, ditargetkan untuk menyuntikkan karakter baru. "Dia menjelaskan dirinya sebagai pejuang," ujar Arteta. "Pejuang dengan kualitas luar biasa, intuisi, kepemimpinan, dan karisma yang akan memantik sesuatu yang berbeda di tim. Kita butuh pribadi seperti itu untuk mendorong seluruh organisasi ke level lebih tinggi."
Namun rencana indah itu langsung teruji. Saliba, setengah dari pasangan sentral pertahanan terbaik liga musim lalu bersama Gabriel Magalhaes, absen dalam jangka panjang akibat cedera punggung di Piala Dunia. Meskipun Arsenal sempat dikabarkan mengejar Ezri Konsa, durasi absensi Perancis itu bisa menentukan nasib pertahanan gelar. Kehilangan satu pilar di lini belakang yang paling konsisten musim lalu bukan hal sepele, apalagi di liga di mana margin kesalahan tipis.
Di sisi lawan, Chelsea tampak paling agresif. Xabi Alonso, yang baru saja mengantarkan Leverkusen ke double domestik tak terkalahkan 2023-24, mendapat dukungan transfer masif. Morgan Rogers datang dari Aston Villa dengan rekor klub £117 juta, Maxence Lacroix dari Crystal Palace £52 juta, dan Marco Palestra £47 juta — semua berusia 20-an dan langsung berkinerja bagus di pra-musim. Veteran Jordan Henderson (36) dan Danny Welbeck (35) direkrut untuk menstabilkan ruang ganti muda. Kombinasi bakat muda dan pengalaman itu bisa jadi formula juara instan.
Manchester City, meski kehilangan Rodri — pemain turnamen Piala Dunia — ke arah yang belum jelas, tetap berani belanja besar. Elliot Anderson diboyong dari Nottingham Forest seharga £116 juta, dan nama Enzo Fernandez muncul sebagai calon pengganti Rodri. Maresca, shisya Guardiola, mendapat modal untuk membuktikan dirinya tanpa bayang-bayang sang guru. Sementara Manchester United memperkuat tengah dengan Youri Tielemans (£35 juta dari Villa) dan Andrey Santos (£48 juta dari Chelsea), keduanya impresi di pra-musim.
Aston Villa, baru tiga bulan lalu mengangkat Europa League, justru mengalami erosi besar. Rogers, Tielemans, dan Lucas Digne — ketiganya starter di final — semua pergi. Penggantinya: Johan Manzambi dari Freiburg (£59,5 juta), Joao Gomes dari Wolves (£38 juta), dan pinjaman Alejandro Garnacho dari Chelsea. Tiga pelatih termasuk ahli set-piece Austin MacPhee juga hijrah ke Chelsea. Unai Emery harus membangun ulang kimia tim di tengah hiruk pikuk pasar transfer.
Liverpool, yang artikel sumbernya terputus di tengah kalimat, juga hadapi transisi manajerial pasca-Jurgen Klopp. Meskipun detailnya belum lengkap, sejarah menunjukkan Merseyside sering kesulitan musim pasca-juara. Faktor kelelahan mental dan fisik setelah musim puncak sering jadi musuh tersembunyi.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, musin ini jadi laboratorium menarik: apakah kontinuitas manajerial (model Arsenal) lebih unggul dari revolusi total (model Chelsea/City)? Liga Indonesia sendiri sering menunjukkan pola serupa — tim juara yang mempertahankan inti skuad dan pelatih cenderung lebih konsisten dibanding yang gonta-ganti filosofi. Tapi Premier League beda: intensitas fisik, kedalaman skuad, dan tekanan media menciptakan variabel yang tak terduga.
Pertarungan gelar 2025-26 bukan hanya soal kualitas XI terbaik, tapi manajemen kedalaman skuad, rotasi, dan ketahanan mental selama 38 minggu. Arteta punya fondasi kokoh, tapi cedera Saliba dan naiknya standar lawan — terutama Chelsea yang dibangun Alonso dengan presisi Jerman — bikin jalan ke retensi gelar jauh lebih curam dari yang terlihat di kertas. Musim ini akan menjawab apakah Arsenal benar-benar sudah jadi dinasti baru, atau cuma juara sekali sapu yang tersandung di gunung Everest mereka sendiri.