KANSAS CITY — Pelatih Argentina Lionel Scaloni dengan tegas menolak narasi rivalitas bersejarah yang menyertai laga semifinal Piala Dunia melawan Inggris, Rabu (12/7) mendatang. "Ini hanyalah pertandingan sepak bola. Titik. Tidak ada lagi di luar sana," ujar Scaloni usai timnya mengalahkan Swiss 3-1 lewat perpanjangan waktu, Sabtu (10/7) malam. Pernyataan sang pelatih bertujuan menenangkan emosi dan memfokuskan pemain pada aspek teknis semata, meski sejarah mencatat pertemuan kedua negara ini selalu bermuatan politik dan emosional mendalam.
Rivalitas Argentina-Inggris telah terbentuk selama puluhan tahun melalui serangkaian insiden ikonik. Mulai dari kontroversi gol tangan Diego Maradona di Piala Dunia 1986 — yang dinobatkan sebagai "Hand of God" — hingga drama adu penalti di babak 16 besar Piala Dunia 1998 yang menguntungkan Argentina. Tidak ketinggalan, gol tunggal David Beckham di fase grup 2002 yang mengantar Inggris ke babak selanjutnya sambil mengirim Argentina pulang lebih awal. Setiap pertemuan selalu menambah babak baru dalam narasi yang kompleks ini.
Di balik lapangan hijau, konflik Milik Falkland (Malvinas) pada 1982 tetap menjadi luka terbuka dalam hubungan bilateral. Perang yang menewaskan 649 personel militer Argentina, 255 personel Inggris, dan tiga warga pulau itu, menciptakan ketegangan diplomatik yang berlanjut hingga kini. Inggris mengklaim kedaulatan dan mempertahankan kehadiran militer di kepulauan tersebut, sementara Argentina terus mengajukan klaim melalui saluran diplomatik dan badan internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Isu ini sering muncul kembali di tribune dan media sosial setiap kali kedua tim bertemu.
Selama turnamen kali ini, isu Malvinas kembali menghangat suasana. Suporter dan pemain Argentina menyanyikan lagu yang menyebut kepulauan itu, Maradona, dan pencarian Lionel Messi untuk mengakhiri karier internasional dengan trofi Piala Dunia kedua. Namun, penyerang muda Jose Manuel Lopez menegaskan profesionalisme sebagai prioritas utama. "Di luar garis putih, ini pertemuan dengan banyak sejarah, rasa sakit, dan beban di baliknya. Tapi kita profesional. Kita akan mainkan seperti laga biasa, hingga detik terakhir," ucap Lopez.
Pendekatan Scaloni mencerminkan falsafah pelatihan yang pragmatis dan berfokus pada proses. Beliau mengakui keunggulan lawan dan memuji rekan profesinya — pelatih Inggris — sebagai sosok yang dihormati dan dikagumi. Sikap ini bukan hanya soal sportivitas, melainkan strategi manajemen ruang kepala pemain. Dengan menurunkan suhu emosional, Scaloni berusaha mencegah timnya terjebak dalam perang psikologis yang justru menguntungkan lawan.
Dari sisi Inggris, tim yang dipimpin pelatih yang disegani Scaloni ini tiba di semifinal setelah mengatasi Norwegia 2-1. Perjalanan mereka menunjukkan stabilitas taktis dan ketahanan mental. Laga di Atlanta akan mempertemukan dua gaya bermain kontras: Argentina yang mengandalkan kreativitas individual Messi dan transisi cepat, serta Inggris yang dikenal dengan struktur defensif rapi dan efisiensi bola mati. Kunci kemenangan kemungkinan besar terletak pada siapa yang lebih efektif mengeksekusi rencana permainan di bawah tekanan maksimal.
Bagi Messi, laga ini memiliki bobot sejarah yang luar biasa. Kapten Argentina berusaha mengejar jejak Maradona 1986 dengan membawa timnas ke final Piala Dunia kedua berturut-turut — prestasi yang belum pernah dicapai Argentina sejak era Maradona. Sebuah kemenangan atas Inggris, lawan sejarah, akan menambah narasi legendaris pada babak akhir karier internasionalnya. Namun, Scaloni terus mengingatkan agar fokus tetap pada kolektif, bukan individu.
Di Indonesia, pertemuan ini menarik perhatian jutaan penggemar sepak bola yang mengikuti narasi rivalitas klasik ini sejak era Maradona hingga Messi. Tayangan langsung semifinal dihadiri tidak hanya oleh penggemar setia kedua tim, tetapi juga netral yang menantikan drama sepak bola tingkat tinggi. Hasil laga ini akan menentukan finalis pertama dan memberikan gambaran apakah Argentina mampu mempertahankan gelar, atau Inggris akhirnya meraih gelar dunia pertama sejak 1966 — ironisnya, gelar yang diraih atas dasar kemenangan kontroversial melawan Argentina sendiri.