Sepakbola

Argentina Pulang Tanpa Trofi, Buenos Aires Tetap Sambut Layaknya Juara

Ringkasan

  • Timnas Argentina tiba di Buenos Aires, Senin (20/7), disambut ribuan suporter meski baru saja kalah 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026.

Pesawat yang mengangkut skuad La Albiceleste mendarat di Bandara Internasional Ezeiza menjelang siang waktu setempat. Tak ada parade terbuka seperti yang digelar Spanyol, juara dunia baru, namun antusiasme ribuan warga yang memadati area kedatangan tak kalah meriah. Bendera biru-putih berkibar di tangan-tangan pendukung yang menunggu sejak pagi, sementara yel-yel "Vamos Argentina" bergema memecah keheningan terminal.

Kembang api mulai menghiasi langit Buenos Aires saat sorot-sorot kamera menembakkan wajah-wajah pemain yang terlihat lelah namun tersenyum. Beberapa pemain mengangkat tangan menghadap kerumunan, lain-lain mencatat momen itu dengan ponsel mereka sendiri. Suasana itu kontras tajam dengan kekecewaan di Stadion Santiago Bernabéu dua hari lalu, di mana gol tunggal Mikel Oyarzabal di menit ke-89 mengakhiri mimpi pertahanan gelar.

Perjalanan Argentina ke final 2026 sebenarnya sudah menuliskan sejarah sendiri. La Albiceleste menjadi tim pertama sejak Brasil 1998-2002 yang menembus final Piala Dunia dua edisi beruntun. Di Qatar 2022, mereka mengangkat trofi usai mengalahkan Prancis lewat adu penalti dramatis. Dua tahun kemudian, mereka kembali berdiri di panggung tertinggi meski harus puas jadi runner-up.

Kendati demikian, jalan menuju final kali ini jauh lebih berliku. Argentina kesulitan di fase grupus, hampir tersingkir usai kalah dari Maroko di laga pembuka. Hanya berkat kemenangan tipis atas Arab Saudi dan Serbia, mereka lolos ke babak 16 besar. Di fase knockout, mereka menundukkan Jepang, Portugal, dan Kroasia — semua lewat adu penalti atau gol tunggal. Ketahanan mental jadi ciri khas tim Lionel Scaloni.

Di sisi lain, Spanyol tampil dominan sejak awal turnamen. La Roja mencetak 18 gol di tujuh laga, paling banyak di antara 32 peserta. Gaya main berbasis posseksi di bawah Luis de la Fuente menghancurkan pertahanan lawan dengan sistematis. Di final, Spanyol menguasai 68 persen bola dan menciptakan 14 tembakan, meski hanya satu yang menggosok gawang Emiliano Martínez.

Messi, yang tidak ikut pulang bersama rombongan utama karena alasan pribadi, memecahkan keheningannya lewat akun media sosialnya beberapa jam setelah laga berakhir. "Rasa sakit ini dalam dan mendalam. Kami dekat sekali, tapi tak cukup," tulis kapten berusia 39 tahun itu. Ia menambahkan, "Bangga dengan grup ini. Kami berjuang sampai detik terakhir. Terima kasih Argentina atas dukungan tak terbatas. Selamat untuk Spanyol."

Pesan singkat itu segera menjadi trending topic global, termasuk di Indonesia, di mana hashtag #Messi dan #Argentina mengudara di X selama berjam-jam. Ribuan netizen Indonesia mengekspresikan empati, banyak yang menyoroti sikap sportivitas Messi yang mengucapkan selamat ke lawan. Fenomena ini menunjukkan betapa besar pengaruh sepak bola Argentina di benua Asia, di mana Messi memiliki basis penggemar masif.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, momen ini mengingatkan pada semangat "juara tanpa trofi" yang pernah terpancar saat Timnas U-19 Indonesia finis runner-up di Piala Asia 2018. Walau hasilnya tidak memuaskan, apresiasi publik justru melonjak. Paralel itu memperkuat narasi bahwa prestasi tidak selalu diukur dari logam mulia, tapi dari perjuangan yang ditampilkan.

Secara taktis, kepergian Messi dari timnas — meski belum resmi diumumkan — terasa semakin nyata. Di usia 39 tahun, bintang Inter Miami itu sudah menuntaskan misi terbesarnya: membawa Argentina juara dunia 2022 dan Copa América 2024. Kini, transisi generasi ke Julián Álvarez, Alejandro Garnacho, dan Valentin Carboni menjadi prioritas absolut Scaloni.

Argentina dijadwalkan memulai kualifikasi Piala Dunia 2030 melawan Chile dan Bolivia pada September mendatang. Tanpa Messi, tekanan akan tertuju pada bahu Álvarez yang baru berusia 24 tahun. Scaloni sendiri telah menegaskan akan tetap memimpin tim, menolak tawaran dari beberapa klub Eropa. Stabilitas di bangku pelatih jadi modal utama La Albiceleste memasuki era pasca-Messi.

Sementara itu, Spanyol merayakan gelar keempat mereka — setelah 2010, 2018 (turnamen fiktif), dan 2022 (turnamen fiktif) — dengan parade megah di Madrid. Kontras kedua negara ini jadi cerminan filosofi sepak bola yang berbeda: Argentina yang dibangun di atas semangat juang dan individualitas bintang, versus Spanyol yang mengandalkan sistem kolektif dan regenerasi berkelanjutan dari La Masia.

Sambutan hangat di Buenos Aires membuktikan satu hal: hubungan Argentina dengan timnasnya bersifat tanpa syarat. Trofi memang tidak pulang, tapi rasa bangga itu tak bisa diukur. Seperti yang diucapkan seorang suporter di Plaza de Mayo: "Kami tidak menyambut juara dunia. Kami menyamput anak-anak kami yang sudah berkorban untuk bendera ini."

Mengapa Ini Penting

Berita ini relevan bagi penggemar sepak bola Indonesia karena memperlihatkan bagaimana kultur suporter yang matang mampu memisahkan hasil akhir dari proses perjuangan. Di era media sosial di mana kebencian sering ditujukan ke atlet yang gagal, respons Argentina jadi teladan sportivitas. Bagi industri, ini menunjukkan nilai brand timnas Argentina tetap kuat pasca-Messi — aset komersial bagi sponsor dan penyiaran. Narasi transisi generasi juga jadi acuan bagi PSSI dalam mengelola ekspektasi publik soal regenerasi Timnas Garuda.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
21 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit