Olahraga

Argentina Ke Semifinal Piala Dunia 2026 Usai Drama 120 Menit Lawan Swiss

Ringkasan

  • Argentina lolos ke semifinal Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Swiss 3-1 lewat drama tambahan waktu 120 menit di Stadion Kansas City.
  • Gol Alexis Mac Allister, Julian Alvarez, dan Lautaro Martínez mengakhiri perlawanan ketat Swiss yang bermain 10 pemain sejak menit ke-87.

KANSAS CITY — Argentina harus berkeringat dingin mengalahkan Swiss 3-1 lewat drama tambahan waktu 120 menit di Stadion Kansas City, Sabtu (11/7) waktu setempat atau Minggu dini hari (12/7) WIB, untuk melaju ke semifinal Piala Dunia 2026. Kemenangan ini menegaskan mentalitas juara bertahan La Albiceleste yang tidak mau menyerah meski menghadapi pertahanan ketat dan keberuntungan yang tidak selalu berpihak.

Pertandingan dibuka dengan gol cepat Argentina pada menit ke-10. Lionel Messi, yang kembali menunjukkan peran sentralnya sebagai playmaker, mengirimkan umpan presisi ke kotak penalti yang disambut Alexis Mac Allister dengan tendangan kepala yang tak terjangkau Gregor Kobel. Gol awal ini memberikan kepercayaan diri bagi tim asuhan Lionel Scaloni, yang mendominasi posse dan menciptakan peluang berulang di babak pertama, namun ketidaktepatan finishing serta penampilan solid Manuel Akanji di lini belakang Swiss menjaga kedudukan 1-0 hingga istirahat.

Babak kedua menghadirkan dinamika berbeda. Swiss yang awalnya bermain defensif mulai berani menekan tinggi, dan upaya mereka terbayar pada menit ke-67. Dan Ndoye memanfaatkan kebuntuan pertahanan Argentina di sisi kiri, mengirimkan tendangan melengkung ke pojok jauh gawang Emiliano Martínez yang tak berdaya. Gol penyamaran ini memicu semangat tim asuhan Murat Yakin, yang selama 20 menit berikutnya justru lebih berbahaya dan hampir membalikkan skor.

Titik balik pertandingan terjadi pada menit ke-87 ketika Breel Embolo mendapat kartu kuning kedua usai dinilai wasit melakukan simulasi (diving) di kotak penalti. Keputusan kontroversial ini memaksa Swiss bermain dengan 10 pemain hingga babak tambahan. Meski memiliki keunggulan numerik, Argentina justru kesulitan memecah benteng pertahanan Swiss yang kini bermain ultra-defensif dengan blok rendah yang rapat. Selama 90 menit waktu normal, Argentina hanya mencatat tiga tembakan tepat sasaran dari total 18 tembakan — angka yang mencerminkan ketidakefektifan lini depan di ruang yang sempit.

Dua babak tambahan waktu 15 menit menjadi uji nyata ketahanan fisik dan mental. Babak pertama tambahan waktu berlangsung sengit dengan Argentina melancarkan gelombang serangan, namun pertahanan Swiss yang dipimpin Nico Elvedi dan Ricardo Rodriguez berhasil mematahkan setiap ancaman. Kelelahan mulai terlihat pada kedua tim, namun disiplin taktis Swiss patut diacungi jempol. Skor 1-1 bertahan hingga istirahat tambahan waktu pertama, memaksa pertandingan ke 15 menit terakhir yang penuh tekanan.

Pada menit ke-112, kebuntuan akhirnya pecah. Julian Alvarez, yang masuk sebagai pengganti di babak kedua, menunjukkan insting penyerang klasik. Menerima bola di pinggir kotak penalti, pemain Atlético Madrid itu mendribel ke dalam dan melepaskan tembakan kaki kanan keras ke pojok kiri gawang Kobel. Gol ini tidak hanya memecah kebuntuan, tetapi juga menghancurkan moral Swiss yang telah berjuang keras selama lebih dari 100 menit.

Lautaro Martínez mengunci kemenangan pada menit injury time babak kedua tambahan waktu. Setelah menerima umpan panjang dari Rodrigo De Paul, kapten Inter Milan itu berlari sendirian menghadapi Kobel dan dengan tenang mengakhiri lariannya dengan finishing rendah ke gawang kosong. Skor 3-1 mencerminkan dominasi Argentina di menit-menitakhir, sekaligus menghapus narasi bahwa tim ini kesulitan menghadapi tim-tim yang bermain defensif.

Dengan kemenangan ini, Argentina akan menghadapi pemenang partai Brasil vs Prancis di semifinal. Scaloni kini menghadapi dilema keputusan personel: apakah mempertahankan sistem 4-1-3-2 yang bergantung pada kreativitas Messi di posisi bebas, atau beralih ke formasi lebih seimbang mengingat kelelahan pemain kunci. Sisi lain, Swiss pulang dengan kepala tinggi — pertahanan mereka yang hanya mengkhianati 1,2 xG (expected goals) lawan sepanjang 120 menit membuktikan bahwa tim Murat Yakin layak dihormati sebagai tim yang paling sulit dikalahkan di babak 8 besar turnamen ini.

Mengapa Ini Penting

Kemenangan drama ini memperkuat narasi Argentina sebagai tim yang paling tahan mental di era Messi, kemampuan yang krusial di fase knockout di mana detail kecil menentukan nasib. Bagi penggemar Indonesia, pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa sepak bola modern tidak hanya soal bakat individual, tapi disiplin taktis dan manajemen emosi di bawah tekanan ekstrem. Secara industri, lolosnya Argentina ke semifinal memastikan rating tayang global tetap tinggi, mengingat daya tarik komersial La Albiceleste dan Messi yang masih menjadi magnet sponsor dan penonton. Kedepan, performa Alvarez dan Lautaro sebagai pengganti/pelengkap Messi memberi harapan transisi generasi yang mulus — isu yang relevan bagi pengembangan pemain muda di liga domestik Indonesia.

Sumber Asli
CNN Indonesia
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit