Olahraga

Argentina Hancurkan Swiss 3-1, Messi Cetak Sejarah Baru Menuju Semifinal Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Argentina mengalahkan Swiss 3-1 di perempat final Piala Dunia 2026, lolos ke semifinal bertemu Inggris.
  • Messi cetak rekor assist baru, Alvarez dan Lautaro bersinar di perpanjangan waktu, La Albiceleste hancurkan banyak rekor historis.

KANSAS CITY — Argentina menegaskan status mereka sebagai juara bertahan dengan performa mengesankan, mengalahkan Swiss 3-1 di Stadion Kansas City, Missouri, pada Minggu (12/7) dini hari WIB. Kemenangan ini mengantarkan La Albiceleste ke semifinal Piala Dunia 2026, menjaga harapan mereka untuk menjadi tim pertama sejak Brasil 1962 yang berhasil mempertahankan gelar dunia. Tiga gol yang dicetak Alexis Mac Allister (menit 10), Julián Alvarez (menit 112), dan Lautaro Martínez (menit 121) tidak hanya mengamankan tiket ke empat besar, melainkan juga melahirkan deretan rekor historis yang menegaskan dominasi Argentina di panggung tertinggi sepak bola dunia.

Sangkapten Lionel Messi, meskipun tidak mencetak gol, menjadi arsitek utama kemenangan dengan assist untuk gol pembuka Mac Allister. Umpan sepak pojok presisi Messi menemukan kepala Mac Allister hanya setelah 9 menit 34 detik berjalan, mencatat assist tercepatnya di sejarah Piala Dunia sekaligus assist pertama dari tendangan sudut. Dengan assist kesepuluh ini di panggung Piala Dunia, Messi melampaui legenda Diego Maradona (8 assist) dan menjadi pemain dengan assist terbanyak sejak 1966. Lebih menakjubkan, kesepuluh assist tersebut menciptakan gol untuk sepuluh pemain berbeda, membuktikan kemampuan playmaking yang tak tertandingi.

Julián Alvarez terus menegaskan reputasinya sebagai 'Raja Babak Gugur'. Empat dari lima gol karirnya di Piala Dunia tercipta di fase knockout, menyamai rekor Diego Maradona sebagai pencetak gol kedua terbanyak Argentina di babak gugur, hanya di bawah Messi (7 gol). Gol Alvarez di menit ke-112 — setelah masuk sebagai pengganti — menunjukkan kedalaman skuad Argentina dan kepercayaan pelatih Lionel Scaloni pada rotasi pemain. Lautaro Martínez kemudian mengunci kemenangan dengan gol di menit ke-121, gol paling lambat dalam sejarah Argentina di Piala Dunia, memastikan tidak ada drama adu penalti.

Secara kolektif, Argentina menyamai rekor Prancis dengan mencetak tiga gol atau lebih dalam empat pertandingan beruntun di Piala Dunia 2026. Keunikan lain muncul dari efisiensi tendangan sudut: tiga gol Argentina berasal dari set-piece, menyamai rekor Inggris dan Bosnia-Herzegovina, padahal Argentina merupakan tim dengan rata-rata tinggi badan ketiga terpendek di turnamen. Hal ini membuktikan superioritas taktis dan persiapan matang tim Scaloni dalam memanfaatkan bola diam, mengubah kelemahan fisik menjadi senjata tajam.

Sejarah juga terukir untuk Messi secara personal. Bintang Inter Miami ini menjadi pemain keempat dalam sejarah yang starter di empat perempat final Piala Dünya berturut-turut, bergabung dengan trio legenda Jerman: Lothar Matthäus, Miroslav Klose, dan Uwe Seeler. Keterlibatan gol Messi di fase knockout kini mencapai 15 (7 gol, 8 assist) dalam 60 tahun terakhir, memecahkan rekor yang sebelumnya dibagikan dengan Kylian Mbappé (14). Dalam delapan penampilan terakhir di babak gugur, Messi terlibat langsung dalam 13 gol — statistik yang hampir mustahil ditandingi di era modern.

Kemampuan Argentina di perpanjangan waktu juga patut diacungi jempol. Ini adalah pertandingan ke-13 Argentina yang berlanjut ke extra time di sejarah Piala Dunia, memecahkan rekor imbang dengan Jerman (12). Dari 13 laga tersebut, Argentina memenangkan 11 (termasuk via adu penalti), menjadikan mereka tim kedua paling sukses di extra time setelah Italia (6 kemenangan). Lebih spesifik, Argentina menjadi tim pertama dalam sejarah yang mencetak dua gol dalam satu babak perpanjangan waktu di beberapa pertandingan pada satu edisi Piala Dunia — bukti mentalitas juara dan kebugaran fisik yang luar biasa.

Di semifinal, Argentina akan menghadapi Inggris yang mengalahkan Norwegia 2-1 di Miami. Pertemuan ini mengulang narasi sejarah yang kaya, mulai dari Perang Falkland 1982 hingga drama Maradona 'Hand of God' di Mexico 1986. Untuk Messi, ini kesempatan untuk menyudahi karir internasionalnya dengan gelar dunia kedua beruntun di usia 39 tahun — usia di mana sebagian besar pemain sudah pensiun. Susunan pemain Argentina di perempat final memiliki rata-rata usia 30 tahun 177 hari, tertua sejak Brasil 1962, namun pengalaman justru menjadi aset vital di momen-momen kritis.

Bagi sepak bola Indonesia, perjalanan Argentina ini menawarkan pelajaran berharga: konsistensi sistem, pengembangan pemain muda (Alvarez, Mac Allister) di samping pemeliharaan inti senior, serta pemanfaatan bola diam sebagai senjata strategis. Scaloni membangun tim yang tidak bergantung pada satu individu, meskipun Messi tetap menjadi katalisator. Jika Argentina berhasil menjuarai Piala Dunia 2026, mereka akan menegaskan dinasti modern yang sepadan dengan Brasil 1958-1962, sekaligus mengakhiri debat 'GOAT' secara definitif לזכותו Messi.

Mengapa Ini Penting

Kemenangan Argentina memperkuat narasi dinasti sepak bola modern yang dibangun pada sistem, bukan hanya bintang tunggal — pelajaran vital untuk pengembangan sepak bola Indonesia yang sering bergantung individu. Laga semifinal vs Inggris menawarkan konteks sejarah dan emosional yang akan menarik perhatian global, termasuk pasar media dan sponsor di Indonesia. Performa Alvarez dan Mac Allister membuktikan pentingnya regenerasi terencana di samping pemeliharaan inti senior, model yang bisa diadopsi timnas Indonesia. Rekor Messi yang tak tertandingi di fase knockout menutup perdebatan GOAT, menciptakan momen sejarah yang akan direferensikan dekade ke depan.

Sumber Asli
CNN Indonesia
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit