Tim nasional Argentina melenggang ke final Piala Dunia 2026 setelah membalikkan keadaan untuk menang 2-1 atas Inggris pada semifinal yang berlangsung di Atlanta Stadium, Kamis dinihari, 16 Juli 2026. Kemenangan tersebut memastikan La Albiceleste menghadapi Spanyol pada partai puncak yang akan digelar beberapa hari mendatang.
Spanyol lebih dulu mengamankan tiket final usai menyingkirkan Prancis dengan skor 2-0. Hasil itu membuat final Piala Dunia 2026 menjadi pertarungan dua kekuatan sepak bola Amerika Selatan dan Eropa yang sama-sama sedang berada dalam siklus emas generasi pemainnya.
Sepanjang laga di Atlanta, Argentina tampil dengan penguasaan bola mencapai 65 persen. Mereka melepaskan 15 tembakan dengan lima di antaranya mengarah tepat ke gawang. Inggris, di sisi lain, hanya mencatatkan lima percobaan dan dua yang on target, gambaran betapa sulitnya The Three Lions menembus pertahanan tim asuhan Lionel Scaloni.
Kekalahan ini sekaligus memperpanjang catatan buruk Inggris di fase gugur turnamen besar. Meski memiliki materi pemain muda berbakat, formasi yang diracik pelatih mereka gagal mempertahankan keunggulan saat lawan mulai meningkatkan tempo. Dominasi statistik Argentina nyaris tak berarti jika bukan karena ketenangan bintang-bintang senior di menit akhir.
Laga berjalan terkunci hingga babak pertama usai tanpa gol. Inggris mengejutkan publik dengan keunggulan 1-0 pada menit ke-55. Umpan silang Morgan Rogers diselesaikan Anthony Gordon ke dalam gawang, membuat pendukung Argentina sempat menahan napas.
Scaloni merespons dengan menaikkan intensitas serangan. Jordan Pickford, penjaga gawang Inggris, tampil gemilang dengan beberapa penyelamatan krusial, termasuk saat menepis peluang Enzo Fernandez menit ke-85 dan sundulan Nicolas Gonzalez menit ke-69. Tanpa refleks penjaga gawang Everton itu, Argentina bisa saja tertinggal lebih jauh.
Gol penyama kedudukan lahir pada menit ke-85. Lionel Messi mengirim umpan terobosan kepada Enzo Fernandez yang berdiri di tepi kotak penalti. Gelandang Chelsea tersebut melepaskan tembakan mendatar ke sisi kiri gawang yang tak mampu dijangkau Pickford. Skor imbang 1-1 mengubah momentum sepenuhnya ke tangan Argentina.
Ketika pertandingan seolah akan dilanjutkan ke babak tambahan, Argentina mencetak gol kemenangan pada masa injury time. Menit ke-90+2, Messi kembali menjadi kreator lewat umpan silang yang disambut sundulan Lautaro Martinez ke gawang kosong. Wasit Ismail Elfath meniup peluit panjang setelah sembilan menit tambahan waktu, mengukuhkan kemenangan 2-1 bagi wakil Amerika Selatan itu.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, performa Argentina memberikan pelajaran tentang pentingnya transisi generasi. Messi masih menjadi otak permainan, sementara pemain seperti Enzo dan Lautaro mulai mengambil alih tanggung jawab mencetak gol. Kombinasi pemain senior dan emerging stars ini jarang dimiliki tim-tim Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Liga 1 Indonesia dan timnas Garuda sejauh ini lebih mengandalkan kebugaran fisik ketimbang struktur penguasaan bola yang rapi. Data penguasaan bola 65 persen milik Argentina menunjukkan bahwa kematangan taktik masih menjadi jurang pemisah antara sepak bola kita dan standar dunia. Tanpa pembinaan usia muda yang terukur, jarak tersebut akan sulit dipangkas.
Messi menutup laga dengan dua assist kunci yang membuktikan perannya belum tergantikan. Lautaro Martinez, yang musim ini tampil konsisten di klub, mengonfirmasi diri sebagai penyelesai akhir yang dapat diandalkan di turnamen internasional. Inggris keluar dengan kepala tertunduk meski Rogers dan Gordon memberi ancaman nyata di babak kedua.
Final nanti akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Argentina. Spanyol datang dengan pertahanan yang baru kebobolan dua gol sepanjang turnamen, berkat disiplin taktik Luis de la Fuente. Jika Argentina ingin juara, mereka harus mengulangi efisiensi serangan seperti saat membongkar Inggris di menit akhir.
Tren Piala Dunia 2026 menunjukkan betapa menentukannya menit-menit terakhir. Dua semifinal sama-sama ditentukan oleh gol pada fase injury time atau akhir laga. Ke depan, pelatih di berbagai negara, termasuk Indonesia, kemungkinan besar akan menekankan ketahanan mental pemain di 15 menit terakhir sebagai bagian wajib program latihan.