Arema FC sukses memutus catatan impresif Dewa United dalam laga Super League yang berlangsung Minggu (25/10) sore. Singo Edan tampil perkasa dengan melibas tim tamu empat gol tanpa balas, sekaligus memberikan kekalahan perdana bagi skuad asuhan Jan Olde Riekerink musim ini.
Pertandingan yang berlangsung sengit sejak menit awal sempat membuat Arema berada dalam tekanan. Dewa United, yang dimotori Egy Maulana Vikri dan Noah Sadaoui, berulang kali melancarkan serangan berbahaya ke jantung pertahanan tuan rumah. Namun, kedisiplinan barisan pertahanan Arema yang dikomandoi Hansamu Yama dan Diego Landis mampu mematahkan setiap upaya serangan tim tamu.
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-30. Careca Morais menjadi aktor utama setelah melepaskan tembakan terukur dari dalam kotak penalti, memanfaatkan umpan matang Gabriel Silva. Gol tersebut membakar semangat tuan rumah dan membuat permainan menjadi lebih terbuka hingga babak pertama berakhir.
Memasuki paruh kedua, Arema tidak mengendurkan serangan. Lima menit setelah jeda, Careca kembali mencatatkan namanya di papan skor melalui sundulan kepala. Sempat terjadi drama di lapangan saat kiper Sonny Stevens menghalau bola, namun intervensi teknologi Video Assistant Referee (VAR) memastikan bola telah melewati garis gawang. Skor berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan Arema.
Dominasi tuan rumah semakin tak terbendung ketika Samuel Otusanya, yang masuk dari bangku cadangan, sukses mengonversi umpan Marcos Vinicius pada menit ke-65. Kemenangan telak Singo Edan akhirnya ditutup oleh gol Julian Guevara menjelang laga bubar, memanfaatkan eksekusi tendangan bebas Gustavo Franca yang gagal diantisipasi lini pertahanan Dewa United.
Kemenangan ini menjadi sinyal kebangkitan Arema FC di papan tengah klasemen. Meskipun masih tertahan di posisi kesembilan dengan sembilan poin, performa kolektif yang ditunjukkan menunjukkan bahwa mereka mulai menemukan ritme permainan terbaik di bawah arahan pelatih.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Dewa United. Sebagai tim yang sebelumnya memegang rekor tak terkalahkan, hasil minor ini membuat mereka tertahan di peringkat kedua dengan 14 poin, tertinggal satu angka dari Persija Jakarta yang kokoh di puncak klasemen.
Kompetisi Super League musim ini menunjukkan peta persaingan yang semakin ketat. Kehadiran teknologi VAR di lapangan terbukti krusial dalam menentukan hasil akhir laga-laga krusial. Keputusan wasit yang sempat meragukan gol kedua Arema menjadi bukti nyata bahwa akurasi teknologi kini menjadi elemen tak terpisahkan dalam sepak bola modern.
Sementara itu, hasil imbang 1-1 antara Persita Tangerang melawan Bali United di Stadion Internasional Banten turut mengubah dinamika klasemen. Bali United kini mengoleksi 13 poin dan berada di posisi ketiga, sementara Persita menempati peringkat kelima dengan 11 poin.
Persaingan di papan atas pun kian memanas. Persija Jakarta kini harus ekstra waspada karena jarak poin dengan pesaing terdekat seperti Dewa United dan Bali United semakin menipis. Setiap kehilangan poin di pekan-pekan mendatang akan sangat krusial bagi tim-tim papan atas dalam perburuan gelar juara.
Ke depan, konsistensi akan menjadi kunci utama bagi Arema FC untuk merangsek ke papan atas. Jika mampu mempertahankan intensitas permainan seperti saat menghadapi Dewa United, bukan tidak mungkin mereka akan menjadi ancaman serius bagi tim-tim besar lainnya di sisa musim ini.
Bagi Dewa United, tantangan terberat adalah bagaimana mereka merespons kekalahan perdana ini. Mentalitas pemain akan diuji untuk segera bangkit dari keterpurukan. Adaptasi taktik serta evaluasi mendalam diperlukan agar mereka tidak kehilangan momentum dalam perebutan takhta juara Super League.