Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) melayangkan desakan keras kepada operator liga, I.League, untuk segera menuntaskan masalah tunggakan gaji pemain sebelum kompetisi musim 2026/2027 resmi bergulir. Persoalan finansial ini menjadi sorotan tajam karena dinilai mencederai upaya transformasi sepak bola nasional yang sedang mengejar standar profesionalisme lebih tinggi.
Legal Officer APPI, Muhammad Agus Riza Hufaida, menegaskan bahwa fenomena keterlambatan pembayaran upah masih menjangkiti seluruh strata kompetisi di Indonesia. Kondisi ini ironis mengingat narasi besar yang dibangun saat ini adalah membawa liga Indonesia naik kelas ke level yang lebih kompetitif dan tertata secara manajerial.
Dalam diskusi Water Break PSSI Pers di Jakarta, Senin (31/8), Agus menyoroti ketimpangan antara ambisi memajukan liga dengan realitas tata kelola klub yang masih karut-marut. Menurutnya, masalah mendasar seperti hak pemain seharusnya sudah menjadi masa lalu dan tidak lagi menghambat progres industri sepak bola tanah air.
Data yang dipegang oleh APPI menunjukkan angka yang cukup fantastis sekaligus memprihatinkan. Saat ini, terdapat 28 klub yang terjerat kasus tunggakan gaji dengan total nilai mencapai Rp14 miliar. Masalah ini melibatkan 303 pemain yang haknya belum terpenuhi, baik berdasarkan laporan langsung maupun putusan dari National Dispute Resolution Chamber (NDRC).
Konteks keterpurukan finansial ini sebenarnya sudah bisa diprediksi dan dimitigasi sejak dini. Agus mencontohkan kasus PSBS Biak yang harus menelan pil pahit degradasi ke Championship musim depan. Kegagalan manajemen klub dalam menyelesaikan tunggakan gaji sejak empat bulan sebelum kompetisi berakhir terbukti menjadi beban mental dan teknis yang merusak performa tim di lapangan.
Lebih jauh lagi, keterlambatan gaji menciptakan efek domino yang merugikan ekosistem sepak bola secara luas. Pemain yang kehilangan fokus akibat masalah ekonomi cenderung tidak mampu memberikan performa maksimal, yang pada akhirnya menurunkan kualitas pertandingan. Hal ini tentu kontraproduktif bagi upaya I.League dalam menjual produk kompetisi kepada sponsor dan pemirsa televisi.
Bagi industri olahraga Indonesia, kasus ini menjadi alarm keras mengenai pentingnya audit finansial yang ketat sebelum klub dinyatakan lolos verifikasi liga. Standar lisensi klub profesional sering kali hanya terpenuhi di atas kertas, namun gagal diimplementasikan dalam pengawasan arus kas harian selama musim berjalan.
Situasi ini juga menyoroti lemahnya fungsi pengawasan operator liga terhadap stabilitas keuangan klub peserta. Tanpa adanya sanksi tegas atau sistem proteksi gaji yang terintegrasi, klub-klub cenderung meremehkan kewajiban kontraktual mereka kepada para atlet. Padahal, kesejahteraan pemain adalah fondasi utama untuk membangun industri yang berkelanjutan.
Agus menekankan bahwa APPI tidak akan tinggal diam melihat situasi yang berlarut-larut ini. Dengan waktu kurang dari sepekan menuju sepak mula, ia menuntut tanggung jawab penuh dari pihak operator liga untuk segera turun tangan. APPI berharap agar masalah finansial ini tidak lagi menjadi penghambat di musim mendatang.
Langkah ke depan yang paling mendesak adalah sinkronisasi antara regulasi finansial dengan penegakan hukum yang konkret. Jika operator liga ingin serius menaikkan level kompetisi, maka kedisiplinan klub dalam memenuhi hak pemain harus menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.
Ke depannya, tren sepak bola profesional di Indonesia menuntut transparansi lebih besar. Jika I.League gagal memberikan solusi konkret bagi 303 pemain yang terdampak, kepercayaan publik terhadap otoritas liga dipastikan akan semakin merosot. Transformasi liga bukan sekadar tentang perbaikan jadwal, melainkan tentang menjamin martabat dan hak pekerja di dalamnya.
Pada akhirnya, sepak bola sebagai sebuah industri tidak akan pernah mencapai level kelas dunia jika pelaku utamanya, yakni pemain, masih harus berjuang mendapatkan hak mereka. Reformasi manajemen klub yang sehat dan pengawasan ketat dari operator liga menjadi kunci utama agar tidak ada lagi pemain yang menjadi korban ketidakbecusan finansial di masa depan.