Olahraga

Anthony Barry, Dari Accrington Stanley ke Panggung Semifinal Piala Dunia

Ringkasan

  • Berusia 40 tahun, Anthony Barry mendampingi Thomas Tuchel di semifinal Piala Dunia menghadapi Argentina, setelah 11 tahun lalu masih bermain di divisi bawah Inggris bersama Accrington Stanley.

Anthony Barry bukanlah nama yang lazim terdengar di kalangan pemain timnas Inggris saat ini. Namun, pada usia 40 tahun, pria asal Liverpool tersebut akan duduk di bangku cadangan bersama Thomas Tuchel saat Inggris berjuang melawan Argentina di semifinal Piala Dunia pada hari Rabu mendatang. Sebuah lompatan karier yang sulit dipercaya bagi seseorang yang pada 2015 masih bermain di level semi-profesional bersama Accrington Stanley dan menangani tim U-16 klub tersebut.

Kiprah Barry sebagai asisten pelatih Tuchel memang mencuri perhatian publik, terutama lewat wawancara tengah laga yang lugas dan tanpa basa-basi di televisi. Ia membawa pengalaman elite dari Chelsea, Bayern Munich, hingga timnas Portugal dan Belgia. Pria yang menyebut dirinya sebagai "yin" bagi Tuchel yang merupakan "yang" ini kerap menjadi bahan canda karena perbedaan postur mereka, di mana pelatih asal Jerman itu lebih tinggi sekitar 20 sentimeter.

Perjalanan Barry diawali dari lapangan hijau level terendah. Dua dekade lalu, ia merupakan bagian dari skuad Accrington Stanley yang mengangkat trofi Conference dan mengembalikan klub tersebut ke Football League untuk pertama kalinya dalam 44 tahun. Setelah gantung sepatu, Barry memulai karier kepelatihan sebagai asisten manajer di Wigan Athletic. Kesempatan emas datang ketika ia mengesankan Frank Lampard dalam kursus UEFA Pro Licence, yang berujung pada tawaran menjadi pelatih tim utama Chelsea pada musim panas 2020.

Ketika Lampard dipecat dan Tuchel mengambil alih pada Januari 2021, Barry tetap dipertahankan. Keputusan itu terbukti brilian karena hanya dalam beberapa bulan, Chelsea merengkuh gelar Liga Champions. Barry kemudian melebarkan sayap ke sepak bola internasional, bergabung dengan Republik Irlandia sebelum menjadi asisten Roberto Martinez di Belgia, lalu Portugal. Bersama Martinez, ia sempat menangani bintang kelas dunia seperti Cristiano Ronaldo dan Kevin de Bruyne di ajang Piala Dunia dan Euro.

Salah satu aspek yang membuat Barry dihargai sebagai pelatih inovatif adalah ketajamannya dalam memanfaatkan bola mati. Ia menulis disertasi untuk lisensi Pro dengan menganalisis 17.000 lemparan ke dalam (throw-in). Pendekatan berbasis data ini mencerminkan transformasi modern sepak bola di Eropa, di mana teknologi analitik tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi strategi. Bagi portal berita teknologi, metode Barry adalah contoh nyata bagaimana big data diterapkan untuk memecah kebiasaan taktik konvensional di lapangan.

Di Indonesia, pemanfaatan analitik data dalam sepak bola masih berada dalam tahap awal. Klub-klub Liga 1 mulai mengenal pelacakan GPS dan analisis video melalui perangkat lunak seperti Hudl, namun pengumpulan data mikroskopis seperti 17.000 variasi throw-in belum menjadi standar. Keberhasilan Barry menunjukkan bahwa investasi pada infrastruktur sports science dan data analytics berpotensi menciptakan generasi pelatih lokal yang kompetitif di level internasional, bukan sekadar mengandalkan intuisi senioritas.

Barry adalah satu-satunya pelatih Inggris di staf inti Tuchel, sebuah dinamika yang menurutnya sangat produktif. "Bensin di dalam mobil adalah semangat tim," tegas Barry kepada BBC Sport pada April lalu, menekankan bahwa koneksi emosional antarpemain menjadi kunci meraih glori Piala Dunia. Ia juga menyoroti pertandingan melawan Meksiko di Stadion Azteca sebagai bukti tangki semangat tersebut telah penuh meski Inggris kerap tertinggal lebih dulu seperti saat melawan Kongo.

Menjelang turnamen, Barry dan Tuchel hanya memiliki 50 hari sesi latihan bersama para pemain. Keterbatasan waktu ini membuat mereka memprioritaskan pembangunan "persaudaraan" di dalam skuad. "Kami selalu merasa tidak yakin bisa membangun sepak bola fantastis hanya dengan waktu sesingkat itu. Itulah mengapa kami mencoba membangun semangat tim dan persaudaraan," ujar Barry.

Tantangan fisik di Amerika Serikat menjadi variabel lain. Suhu tinggi dan jeda hidrasi memecah alur pertandingan menjadi seperti kuarter dalam basket, sementara jadwal padat menuntut enam laga dalam 22 hari jika Inggris melaju ke final. Barry menegaskan bahwa ia dan Tuchel telah memetakan setiap jam istirahat, latihan, hingga nutrisi sejak menyambangi AS tahun lalu untuk memantau Piala Dunia Antarklub, termasuk cara bola meluncur di rumput lokal.

Kemenangan Chelsea di AS sebelumnya memberi keyakinan bahwa tim Inggris bisa berjaya di sana. Barry dan Tuchel mengincar trofi yang terakhir kali diraih Inggris pada 1966. "Kami bermimpi selama 18 bulan. Dalam olahraga elite, bermimpi adalah salah satu hal terpenting," katanya. Lompatan dari Accrington Stanley ke panggung tertinggi sepak bola dunia ini bukan sekadar dongeng, melainkan hasil dari presisi data, adaptasi taktik, dan manajemen manusia yang presisi.

Mengapa Ini Penting

Kebangkitan pelatih berbasis data seperti Anthony Barry menandakan bahwa masa depan kepelatihan tidak lagi bergantung pada nama besar mantan pemain, melainkan kapasitas mengolah informasi mikroskopis seperti 17.000 variasi lemparan. Bagi ekosistem olahraga Tanah Air, fenomena ini menjadi alarm bahwa pembinaan pelatih wajib mengintegrasikan kurikulum sports analytics sejak dini agar tidak tertinggal dari tren global. Selain itu, pendekatan 'manajemen mimpi' dan 'persaudaraan' ala Tuchel-Barry membuktikan bahwa aspek psikologi dan kekeluargaan bisa menjadi pengganti minimnya hari latihan, sebuah formula yang bisa diadopsi klub Liga 1 yang kerap kekurangan waktu persiapan akibat padatnya kalender kompetisi.

Sumber Asli
BBC Sport
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit