Tim angkat besi Indonesia memasuki tahap akhir persiapan menghadapi Asian Games 2026 yang akan digelar di Aichi-Nagoya, Jepang. Pelatih nasional Samsuri menilai kesiapan para lifter sudah menyentuh angka 95 persen, sebagaimana diungkapkannya saat ditemui di Pelatnas PABSI, Senen, Jakarta, Rabu (2/9).
Menurut Samsuri, pola periodisasi latihan telah dirancang sehingga puncak performa (peak) bertepatan dengan ajang bergengsi tersebut. Saat ini, fokus utama dialihkan dari peningkatan beban ke pemeliharaan kondisi fisik dan mental agar atlet mampu tampil optimal di gelaran multikabang paling besar di Asia tersebut.
Optimisme timnas tidak terlepas dari jejak sejarah. Pada edisi Asian Games sebelumnya, angkat besi berhasil menyumbangkan satu medali emas untuk kontingen Merah Putih. Prestasi itu menjadi tolok ukur sekaligus motivasi untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan, kontribusi medali di edisi mendatang.
Pemerintah melalui Kemenpora sendiri menargetkan Indonesia meraih empat medali emas secara keseluruhan di Asian Games 2026. Angkat besi diposisikan sebagai salah satu andalan cabang olahraga pengisi target tersebut, bersebelahan dengan cabang-cabang unggulan lain seperti badminton, renang, dan atletik.
Namun, jalan menuju podiun teratas tidak akan mulus. Samsuri mengakui persaingan di kelas berat Asia sangat ketat. Korea Selatan diproyeksikan menjadi rival utama, mengingat kedalaman atlet mereka di berbagai kategori berat badan. Sementara kehadiran China — tradisionalnya kekuatan dominan — masih menjadi variabel yang belum pasti tergantung kebijakan pengiriman tim mereka.
Sejarah mencatat, angkat besi Indonesia pernah menjadi supplier medali andalan di kancah Asia hingga awal 2010-an. Nama-nama seperti Eko Yuli Irawan, Triyatno, dan Raema Lisa Rumbewas pernah meramaikan pודיun. Namun, kasus doping massal yang melanda cabang ini pada 2018–2019 menciptakan keterpurukan jangka panjang, termasuk sanksi internasional yang menghambat regenerasi atlet.
Pasca-sanksi, PABSI bersama Kemenpora melakukan restrukturisasi menyeluruh: dari sistem pembinaan, rekrutmen berbasis sains, hingga penguatan tim pendukung (sports science, nutrisi, psikolog). Hasilnya mulai terlihat di ajang regional seperti SEA Games dan Kejuaraan Asia, di mana lifter muda mulai menembus rekor nasional dan meraih medali emas.
Kategori berat yang menjadi incaran emas di Aichi-Nagoya diperkirakan akan diputuskan menjelang keberangkatan, setelah evaluasi final di kejuaraan simulasi internasional. Strategi PABSI cenderung mengirimkan atlet di kelas berat non-Olimpiade atau kelas di mana persaingan relatif lebih terbuka, untuk memaksimalkan peluang emas.
Samsuri menegaskan, meski target realistis hanya satu emas, tim tidak menutup kemungkinan tambahan medali perak atau perunggu. "Kita tidak mau berjanji berlebihan. Satu emas adalah target utama, tapi kalau ada bonus perak atau perunggu, tentu kita terima dengan senang hati," ujarnya.
Langkah selanjutnya adalah finalisasi administrasi dan logistik keberangkatan, dijadwalkan dua minggu sebelum pembukaan. Tim akan melakukan aklimatisasi di Jepang beberapa hari lebih awal untuk menyesuaikan zona waktu dan kondisi cuaca. Selama masa itu, latihan ringan dan visualisasi kompetisi akan menjadi prioritas.
Bagi olahraga angkat besi Indonesia, Asian Games 2026 bukan sekadar ajang buru medali. Ia menjadi uji nyata apakah reformasi pasca-krisis doping telah menghasilkan sistem pembinaan yang berkelanjutan. Keberhasilan di Aichi-Nagoya akan menentukan arah kebijakan pembinaan menuju Olimpiade 2028 di Los Angeles — target jangka panjang yang jauh lebih berat.