Liverpool secara resmi menunjuk Andoni Iraola sebagai manajer anyar mereka. Pelatih asal Spanyol itu diikat kontrak berdurasi dua musim untuk menggantikan Arne Slot. Pengumuman itu sekaligus menutup teka-teki siapa yang akan memimpin The Reds setelah kepergian Slot.
Yang menarik, Iraola ternyata sudah pernah nyaris berseragam Liverpool. Tepatnya pada Januari 2013, ketika Brendan Rodgers masih menjabat manajer. Saat itu, Iraola yang masih menjadi andalan Athletic Bilbao hanya memiliki sisa enam bulan kontrak, dan Rodgers tertarik membawanya ke Anfield.
Rodgers terkesan dengan performa Iraola. Namun, setelah serangkaian pembicaraan, transfer itu tidak pernah terwujud. Iraola justru memperpanjang masa bakti di Athletic Bilbao hingga akhirnya hengkang pada 2015. Keputusan itu, menurut Iraola, murni karena kecintaannya pada klub Basque tersebut.
Meski kini menjadi manajer, Iraola enggan menggunakan kisah itu sebagai alat menjual dirinya. Dalam wawancara dengan The Athletic, ia mengaku belum ingin menceritakan detail rumor tersebut. Ia lebih memilih fokus beradaptasi dan meraih kemenangan bersama Liverpool.
"Saya tidak nyaris pindah ke Liverpool kok waktu itu karena saya tidak ingin meninggalkan Athletic Club. Bagi saya, Athletic Club adalah tempat terbaik," ujar Iraola.
Iraola bukan wajah baru di dunia kepelatihan. Sebelum menangani Liverpool, ia menukangi Bournemouth di Premier League dengan performa impresif. Filosofi sepak bolanya yang menekankan pressing tinggi dan penguasaan bola dianggap cocok dengan tradisi Liverpool.
Penunjukan Iraola disambut antusias suporter Liverpool. Namun, tantangan besar menanti. Ia harus membangun kembali konsistensi tim yang musim lalu tampil naik turun. Tekanan di Anfield jauh berbeda dengan Bournemouth, dan ia harus cepat beradaptasi.
Kisah Iraola bisa menjadi pelajaran bagi pesepakbola Indonesia. Banyak pemain Tanah Air yang nyaris bergabung dengan klub Eropa tetapi batal di menit akhir. Kegigihan Iraola yang akhirnya melatih klub yang dulu hampir merekrutnya menunjukkan bahwa jalan menuju kesuksesan tidak selalu lurus. Ini juga mengingatkan pentingnya pengembangan pemain muda di Indonesia agar memiliki mentalitas seperti Iraola yang memilih bertahan di klub yang membesarkan namanya.
Kehadiran Iraola membuat persaingan Premier League semakin menarik. Ia akan berduel dengan pelatih-pelatih top seperti Pep Guardiola, Mikel Arteta, dan Erik ten Hag. Pengalamannya di Athletic Bilbao dan Bournemouth akan diuji.
"Saya ingin meraih kemenangan demi kemenangan dan beradaptasi dulu. Saya tidak mau menggunakan itu di awal. Tolong ingatkan saya beberapa bulan lagi, Anda bisa tanya itu. Tapi saya tidak suka ditanya itu sejak awal, karena seperti menjual diri sendiri," sambungnya.
Keputusan Liverpool merekrut Iraola menunjukkan arah baru klub yang menginginkan manajer muda dengan ide segar. Setelah era Jürgen Klopp yang panjang, Liverpool ingin kembali ke filosofi heavy metal football yang mendasari kesuksesan mereka.
Jika Iraola mampu menerapkan strateginya di Liverpool, bukan tidak mungkin ia akan menjadi manajer sukses berikutnya. Namun, ia perlu waktu. Dukungan penuh dari manajemen dan suporter akan menjadi kunci.
Bagaimanapun, cerita Iraola bersama Liverpool baru saja dimulai. Dari pemain yang hampir direkrut, kini ia menjadi nahkoda di Anfield. Sebuah perjalanan karier yang menarik untuk diikuti.