Carlo Ancelotti buka suara soal tawaran melatih timnas Italia. Pelatih asal Italia itu menegaskan bahwa keputusannya menolak bukan karena nominal kontrak, melainkan komitmen yang sudah ia bangun bersama Federasi Sepak Bola Brasil (CBF).
Kepastian itu disampaikan Ancelotti setelah ia gagal membawa Brasil berjaya di Piala Dunia 2026. Kegagalan tersebut memunculkan spekulasi bahwa masa depannya bersama Selecao berada di ujung tanduk. Italia pun disebut-sebut mencoba memanfaatkan situasi dengan menawarkan kursi pelatih tim nasional, sebuah peluang yang biasanya sulit ditolak oleh pelatih mana pun, apalagi bagi Ancelotti yang merupakan putra asli Italia.
Namun Ancelotti memilih jalan berbeda. Ia mengaku tetap ingin bertahan dan melanjutkan proyek yang sudah ia susun untuk timnas Brasil. "Ini bukan soal [nilai] kontrak, itu bukan alasan," ujar Ancelotti seperti dikutip dari ESPN.
"Itu [menolak] karena saya punya komitmen ke CBF dan negara ini [Brasil], karena negara ini sudah menyambut saya dengan hangat di tahun pertama ini," sambungnya.
Penolakan Ancelotti ini menjadi pukulan telak bagi Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Sebab, sebelumnya mereka juga sudah ditolak oleh Pep Guardiola yang akhirnya bertahan di Manchester City. Italia memang tengah dalam situasi sulit setelah tiga kali gagal lolos ke putaran final Piala Dunia, sebuah torehan memalukan bagi negara dengan empat gelar juara dunia.
Kegagalan beruntun itu membuat FIGC serius mencari sosok pelatih top untuk membangkitkan kembali kejayaan Gli Azzurri. Namun jalan yang mereka tempuh tidak mulus. Dua pelatih berkelas dunia sudah menolak, dan akhirnya FIGC menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih timnas Italia.
Keputusan Ancelotti menarik untuk dicermati. Di satu sisi, melatih timnas negaranya sendiri adalah puncak karier yang hampir pasti diidamkan banyak pelatih. Di sisi lain, ia sudah terikat kontrak dan merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap Brasil, negara yang baru setahun ia tempati.
Situasi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang kerap terjadi di Indonesia. Federasi sepak bola nasional sering kali kesulitan mendatangkan pelatih top karena para calon masih terikat kontrak dengan klub atau negara lain. Komitmen dan etika profesional menjadi pertimbangan besar, bukan sekadar soal uang.
"Saya ingin bertahan di sini. Dan saya berterima kasih pada Federasi Italia, tentu saja, namun saya ingin bertahan di sini," kata Ancelotti menegaskan.
"Karena saya percaya ini adalah langkah yang tepat dan adil untuk bertahan di negara yang sudah menyambut saya dengan sangat hangat, [bekerja sama] dengan institusi yang sudah memberikan kesempatan saya untuk bekerja," tuturnya.
Penolakan Ancelotti dan Guardiola menunjukkan bahwa melatih timnas Italia bukan lagi daya tarik utama bagi pelatih elite dunia. Tekanan publik yang tinggi, kritik media yang keras, dan minimnya talenta muda yang sedang naik membuat kursi pelatih Italia terbilang panas. Dibandingkan menangani klub dengan anggaran besar dan skuad siap pakai, menukangi timnas justru dianggap sebagai pekerjaan yang lebih rumit.
Bagi pembaca Indonesia, kisah ini memberikan pelajaran penting. Loyalitas seorang pelatih terhadap institusi yang mempercayainya adalah nilai yang tidak ternilai. Di tengah maraknya tawaran menggiurkan, Ancelotti memilih bertahan pada komitmen yang sudah ia buat. Ia menilai bahwa membangun timnas Brasil adalah proyek jangka panjang yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja di tengah jalan.
Kini, setelah Ancelotti dan Guardiola memutuskan bertahan, perhatian publik tertuju pada Roberto Mancini. Mantan pelatih Inter Milan itu diberi tugas berat untuk mengembalikan Italia ke pentas Piala Dunia. Apakah ia mampu melakukannya, atau justru menjadi korban berikutnya dari tekanan yang sama?