Langkah ganda putri Indonesia, Febriana Dwipuji Kusuma dan Meilysa Trias Puspitasari, harus terhenti di babak 16 besar Asian Games 2026. Bertanding di Ichinomiya pada Sabtu, 26 September 2026, pasangan yang akrab disapa Ana/Trias ini takluk di tangan unggulan kedua asal Korea Selatan, Lee So Hee/Baek Ha Na, melalui pertarungan tiga gim dengan skor 16-21, 21-15, dan 9-21.
Kekalahan ini menjadi catatan tersendiri bagi pelatih dan tim evaluasi PBSI, mengingat Ana/Trias sebenarnya mampu memberikan perlawanan sengit pada dua gim awal. Keberhasilan mencuri satu gim dari pasangan papan atas dunia tersebut menunjukkan adanya progres kualitas permainan, namun ketenangan di poin-poin krusial masih menjadi titik lemah yang harus segera dibenahi.
Dalam pertandingan tersebut, strategi yang diterapkan Ana/Trias sejak awal gim pertama sebenarnya sudah berjalan sesuai rencana. Mereka mencoba bermain dengan tempo panjang untuk menguras stamina lawan. Namun, Lee So Hee dan Baek Ha Na menunjukkan kelasnya sebagai pasangan berpengalaman dengan mengubah taktik secara drastis drastis pada gim penentuan.
Memasuki gim ketiga, pasangan Korea Selatan tersebut sengaja memperlambat tempo permainan untuk memecah ritme agresif yang dibangun Ana/Trias. Perubahan taktik ini terbukti efektif membuat pasangan Indonesia kehilangan fokus. Mereka justru terjebak dalam permainan sendiri yang terburu-buru, yang berujung pada banyaknya kesalahan teknis yang tidak perlu.
Febriana mengakui bahwa keinginan kuat untuk segera mematikan bola justru menjadi bumerang. Seringkali, bola yang sebenarnya berada dalam posisi enak untuk dieksekusi justru berakhir dengan pukulan yang tidak akurat. Ketidaksabaran ini membuat pertahanan lawan yang solid justru semakin sulit ditembus, terutama saat poin-poin genting di awal gim ketiga.
Dari perspektif teknis, kegagalan ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi ganda putri Indonesia dalam menembus dominasi elite dunia. Persaingan di level Asia, terutama melawan pasangan Korea Selatan dan Jepang, menuntut konsistensi tinggi dalam menjaga ketenangan mental. Kecepatan fisik memang modal dasar, namun kematangan dalam mengelola tempo permainan seringkali menjadi pembeda antara kemenangan dan kekalahan.
Bagi dunia bulu tangkis Indonesia, hasil di Ichinomiya ini menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas individu tidak cukup tanpa dibarengi dengan kecerdasan taktis di lapangan. Ana/Trias sebenarnya memiliki potensi besar untuk menembus jajaran elit, namun mereka harus belajar bagaimana tetap dingin saat lawan berusaha merusak ritme permainan.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa banyak pasangan muda Indonesia sering terjebak pada keinginan untuk bermain cepat guna mengintimidasi lawan. Padahal, lawan-lawan sekelas Lee/Baek justru sangat menyukai permainan cepat yang tidak terukur. Kedewasaan bermain adalah kunci yang masih harus diasah agar mereka tidak mudah terpancing oleh perubahan strategi lawan di tengah laga.
Febriana menegaskan bahwa mereka telah berusaha maksimal untuk membalas kekalahan sebelumnya di Kejuaraan Dunia. Meskipun target kemenangan belum tercapai, ia merasa ada peningkatan yang cukup signifikan karena mampu memaksa lawan bermain hingga tiga gim. Hal ini menjadi modal kepercayaan diri bagi mereka untuk turnamen-turnamen internasional berikutnya.
Evaluasi mendalam dipastikan akan dilakukan oleh tim pelatih pasca-kegagalan di Asian Games ini. Fokus utama tidak hanya pada penguatan fisik, tetapi juga pada simulasi permainan di bawah tekanan tinggi. Ana dan Trias perlu lebih sering menghadapi situasi di mana mereka harus memaksakan permainan lebih lambat guna menjaga akurasi pukulan saat poin-poin krusial.
Ke depannya, agenda padat telah menanti pasangan ini. Mereka diharapkan dapat mengonversi pengalaman pahit di Ichinomiya menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki peringkat dunia. Konsistensi dalam menjaga pola permainan diharapkan menjadi prioritas utama sebelum mereka kembali terjun di tur dunia BWF mendatang.
Secara keseluruhan, perjalanan Ana/Trias di Asian Games 2026 adalah bukti nyata bahwa persaingan bulu tangkis modern semakin menuntut keseimbangan antara kekuatan fisik dan mentalitas. Tanpa kemampuan mengontrol emosi dan tempo, atlet papan atas sekalipun akan kesulitan mempertahankan konsistensi saat menghadapi lawan yang memiliki ketenangan lebih baik.