Amy Hunt dan Dina Asher-Smith mengukir nama mereka di buku catatan Kejuaraan Eropa Atletik setelah memimpin dominasi Inggris di hari penutup di Birmingham, Minggu (16/8). Hunt, berusia 24 tahun, menyumbang emas keempatnya melalui estafet campuran 4x100 meter yang diselesaikan tim Inggris dalam waktu rekor Eropa 39,97 detik. Sebelumnya, ia sudah mengoleksi emas di nomor 100 meter, 200 meter, dan estafet putri 4x100 meter.
Prestasi Hunt melampaui rekor sebelumnya yang selama ini tidak pernah disentuh oleh atlet manapun — laki-laki maupun perempuan — sejak turnamen ini digelar pertama kali pada 1934. "Oh my gosh, I am over the moon," ucap Hunt ke BBC usai lomba, wajahnya tak mampu menyembunyikan kegembiraan. "Menyelesaikannya bersama teman-teman terdekat di olahraga ini luar biasa."
Di sisi lain, Dina Asher-Smith memperkaya koleksi medalinya menjadi 11 buah, delapan di antaranya emas. Angka itu menggeser dia ke puncak daftar atlet paling sukses sepanjang sejarah Kejuaraan Eropa. Di usia 30 tahun, Asher-Smith masih menjadi tulang punggung tim sprint Inggris, berlari sebagai penutup di estafet campuran bersama Jeremiah Azu dan Zharnel Hughes. Ketiganya menyumbang dominasi total Inggris di nomor sprint pada malam final.
Keberhasilan ganda ini bukan muncul tiba-tiba. Hunt telah menunjukkan potensi besar sejak junior, meraih gelar dunia U20 di 200 meter pada 2019. Ia juga pernah meraih perak di Kejuaraan Dunia 2023 di Budapest. Asher-Smith sendiri sudah lama jadi wajah atletik Inggris, dengan gelar dunia 200 meter pada 2019 dan berbagai medali Olimpiade serta Kejuaraan Dunia. Keduanya mewakili generasi emas sprint Inggris yang kini memuncaki panggung Eropa.
Dominasi Inggris di nomor sprint sebenarnya sudah terlihat sejak awal turnamen. Di nomor individu, Hunt memenangi 100 meter dengan catatan waktu 11,03 detik dan 200 meter dalam 22,32 detik. Estafet putri 4x100 meter juga milik Inggris dengan margin tipis. Malam final menjadi puncaknya: estafet campuran 4x100 meter dihentikan jam pada 39,97 detik — rekor Eropa baru yang menghapus catatan sebelumnya.
Namun, kejuaraan ini tak sepenuhnya milik Inggris. Italia muncul sebagai juara umum medali dengan total 22 medali, sepuluh di antaranya emas. Emas penutup Italia diraih lewat estafet putra 4x400 meter, menjuarai lomba hanya 0,03 detik lebih cepat dari tim tuan rumah. Ketipisan margin itu menunjukkan seberapa ketat persaingan di tingkat elit ini.
Inggris menempati posisi kedua dengan 19 medali, sembilan emas. Jerman mengikuti di urutan ketiga dengan 21 medali (enam emas), diikuti Belanda (14 medali, lima emas) dan Norwegia (enam medali, empat emas). Peringkat ini mencerminkan keseimbangan kekuatan atletik Eropa yang semakin merata, bukan hanya didominasi satu atau dua negara.
Di sisi individu, Matthew Hudson-Smith menambahkan sejarah pribadinya. Perak di estafet 4x400 meter putra membawa total medalinya menjadi sembilan, menggeser sprinter Prancis Christophe Lemaitre sebagai atlet putra paling berprestasi dalam sejarah kejuaraan. Hudson-Smith, 31 tahun, telah menjadi simbol ketahanan dan konsistensi di nomor 400 meter.
Cerita inspiratif lain hadir dari Georgia Hunter Bell. Lari 1.500 meter putri disandang oleh atlet berusia 32 tahun yang pernah mundur dari olahraga selama lima tahun. Kembalinya ke lintasan justru memunculkan performa terbaik: emas di Kejuaraan Dunia Indoor dan Commonwealth Games awal tahun ini, kini dilengkapi emas Eropa. Bell membuktikan bahwa karir atletik tidak selalu linier.
Untuk konteks Indonesia, prestasi Hunt dan Asher-Smith menjadi tolok ukur standar sprint global. Atlet Indonesia seperti Lalu Muhammad Zohri atau tim estafet nasional yang pernah meraih emas SEA Games dan Asian Games, masih berjarak jauh dari level rekor Eropa 39,97 detik di estafet campuran. Rekor nasional Indonesia 4x100 meter putra saat ini masih di atas 39 detik, sedangkan estafet campuran belum menjadi nomor standar di kompetisi regional.
Kesenjangan ini menyoroti perlunya pengembangan sistematis dari usia dini, fasilitas biomekanika, dan pelatihan kecepatan maksimal yang terstruktur. Program Kemenpora dan PB PASI yang fokus pada "Road to Olympics" seharusnya mempelajari model pengembangan sprint Inggris — yang menggabungkan ilmu olahraga, psikologi, dan kompetisi bertingkat sejak kategori umur.
Ke depan, Hunt dan Asher-Smith akan membawa momentum ini ke Kejuaraan Dunia 2025 di Tokyo dan Olimpiade 2028 di Los Angeles. Bagi Indonesia, tantangannya jelas: mengejar standar kualifikasi yang semakin ketat, sambil membangun kedalaman tim estafet yang bisa bersaing di panggung Asia, lalu dunia. Sejarah yang diciptakan di Birmingham Minggu lalu bukan hanya milik Inggris — ia jadi patokan baru bagi seluruh negara yang bermimpi cepat.