Sektor ganda campuran Indonesia akhirnya kembali memiliki wakil di jajaran elit dunia setelah Amri Syahnawi dan Nita Violina Marwah resmi menembus peringkat kesembilan dalam pembaruan ranking BWF per Selasa (27/10/2026). Kenaikan posisi ini menandai titik tertinggi dalam karier profesional mereka sebagai pasangan, sekaligus mengakhiri penantian panjang bagi ganda campuran Merah Putih untuk kembali bersaing di papan atas.
Amri dan Nita melesat tiga peringkat dari posisi ke-12 yang mereka tempati pekan sebelumnya. Capaian ini menjadi angin segar bagi bulu tangkis Indonesia, terutama setelah sektor ini sempat mengalami kevakuman di posisi sepuluh besar sejak Jafar Hidayatullah dan Felisha Pasaribu terlempar dari daftar tersebut pada pertengahan tahun ini. Sejak saat itu, performa ganda campuran Indonesia cenderung stagnan dan sulit menemukan konsistensi di turnamen level atas.
Keberhasilan Amri dan Nita bukanlah hasil instan, melainkan akumulasi dari perjuangan panjang di berbagai turnamen internasional sepanjang tahun 2026. Salah satu tonggak sejarah mereka adalah saat tampil impresif pada Kejuaraan Dunia 2026 di bulan Agustus. Mereka menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mampu menembus babak semifinal dan sukses membawa pulang medali perunggu, yang secara signifikan menyumbang 10.500 poin dalam perolehan ranking mereka.
Momentum positif tersebut berlanjut ketika mereka berhasil mengamankan medali perak pada ajang Asian Games 2026. Konsistensi dalam mengumpulkan poin di turnamen-turnamen bergengsi membuat peringkat mereka terus merangkak naik dari posisi ke-17 hingga akhirnya menembus sepuluh besar dunia. Tren ini menunjukkan bahwa Amri dan Nita memiliki kapasitas untuk bersaing di level elite dunia jika terus diberikan kesempatan bertanding secara reguler.
Terbaru, tambahan 6.050 poin dari turnamen French Open 2026 turut memperkokoh posisi mereka. Meski langkah mereka terhenti di babak perempat final setelah meladeni perlawanan sengit dari pasangan China, Feng Yan Zhe dan Huang Dong Ping, performa mereka dalam pertandingan tiga gim tersebut membuktikan bahwa mereka mampu memberikan perlawanan ketat kepada pasangan top dunia.
Secara teknis, perkembangan Amri dan Nita memberikan harapan bagi PBSI untuk mulai melakukan regenerasi yang lebih terstruktur. Selama ini, sektor ganda campuran memang menjadi salah satu titik terlemah Indonesia jika dibandingkan dengan sektor ganda putra. Dengan masuknya Amri dan Nita ke jajaran sepuluh besar, beban untuk meraih prestasi di turnamen level Super 500 ke atas setidaknya terbagi secara lebih merata.
Namun, tantangan terbesar bagi keduanya baru saja dimulai. Mempertahankan posisi di peringkat sepuluh besar jauh lebih sulit daripada sekadar mencapainya. Konsistensi dalam menjaga kebugaran fisik dan strategi permainan akan menjadi kunci utama, mengingat jadwal turnamen BWF yang sangat padat sepanjang tahun menuntut stamina yang prima.
Para pengamat bulu tangkis menilai bahwa Amri dan Nita memiliki keunggulan pada chemistry yang semakin solid. Berbeda dengan pasangan-pasangan baru yang seringkali terpaksa dirombak karena kegagalan prestasi, Amri dan Nita justru menunjukkan grafik peningkatan yang stabil. Ini adalah modal berharga bagi tim pelatih untuk membangun kepercayaan diri mereka menuju target yang lebih besar di masa depan.
Proyeksi ke depan, fokus utama Amri dan Nita adalah mengamankan tiket menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Kualifikasi yang akan dimulai tahun depan menuntut mereka setidaknya berada di posisi delapan besar dunia agar dapat lolos melalui jalur yang lebih aman. Peringkat sembilan saat ini adalah modal awal yang sangat krusial, namun perjalanan menuju Los Angeles masih sangat panjang dan penuh dengan persaingan ketat.
Strategi pemilihan turnamen akan menjadi krusial bagi mereka di tahun 2027. Mereka perlu menyeimbangkan antara mengejar poin ranking dan menjaga kondisi fisik agar tidak mengalami kelelahan atau cedera. Dukungan dari tim pendukung di pelatnas akan sangat menentukan apakah mereka mampu mempertahankan momentum ini atau justru mengalami penurunan performa seperti yang dialami oleh pasangan ganda campuran Indonesia sebelumnya.