Eks pemain Tottenham Hotspur, Toby Alderweireld, memberikan masukan tajam bagi manajemen Arsenal soal strategi rekrutmen musim panas ini. Menurutnya, The Gunners harus menargetkan Julian Alvarez dari Atletico Madrid, bukan Vinicius Junior milik Real Madrid, untuk mengisi kekosongan kualitas di lini depan. Penilaian ini muncul di tengah spekulasi kedua bintang tersebut berpeluang berganti klub pada jendela transfer mendatang.
Alderweireld, yang pernah bertemu Arsenal berulang kali saat membela Spurs, mengakui tim Mikel Arteta sudah memiliki penyerang andal seperti Viktor Gyokeres dan Kai Havertz. Gyokeres sendiri mencetak 21 gol di semua kompetisi musim lalu, sementara Havertz memberikan variasi taktis. Namun, mantan bek Belgium itu merasa keduanya belum cukup untuk menembus pertahanan ketat lawan-lawat top Premier League dan Liga Champions secara konsisten.
Alasan utama Alderweireld memilih Alvarez terletak pada profil pemain yang serbaguna dan etos kerja tinggi. Pemain asal Argentina itu mampu bermain sebagai penyerang tunggal, second striker, hingga sayap palsu — fleksibilitas yang sangat dihargai dalam sistem Arteta yang mengutamakan rotasi posisi dan pressing intens. Di musim pertamanya di Atletico Madrid, Alvarez mencatatkan 20 gol di semua ajang, membuktikan kemampuan adaptasi instan di Liga Spanyol.
Di sisi lain, Vinicius Junior memang memiliki statistik mengesankan dengan 22 gol untuk Real Madrid musim lalu. Namun, kontraknya yang tersisa satu tahun menciptakan dinamika rumit. Los Blancos berpotensi melepasnya musim panas ini untuk menghindari kepergian gratis, namun harga transfer dan gaji mingguan yang fantastis akan membebani struktur wage bill Arsenal. Lebih jauh, gaya bermain Vinicius yang mengandalkan kecepatan dan dribbling individu dinilai kurang cocok dengan filosofi kolektif Arteta.
Konteks ini semakin menarik karena Alvarez sendiri telah mengungkapkan keinginan untuk meninggalkan Atletico Madrid. Meskipun baru satu musim bergabung dari Manchester City, pemain berusia 24 tahun itu merasa perannya tidak optimal di bawah Diego Simeone. Situasi ini menciptakan peluang emas bagi Arsenal untuk merekrut striker puncak usia emas dengan harga yang masih terjangkau relatif dibanding nilai pasar Vinicius.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, rekrutmen Alvarez akan menghadirkan narasi baru di Premier League. Bintang Argentina ini memiliki popularitas besar di Nusantara berkat keberhasilan timnas Albiceleste di Piala Dunia 2022. Kehadirannya di Emirates Stadium tidak hanya memperkuat daya tarik komersial Arsenal di Asia Tenggara, tapi juga memberikan referensi gaya bermain bagi striker-striker muda Indonesia yang mengidolakan gerakan off-the-ball dan finishing dua kaki Alvarez.
Dari sisi taktis, kehadiran Alvarez akan memecahkan dilema Arteta soal rotasi penyerang. Musim lalu, Arsenal terlalu bergantung pada Gyokeres yang kelelahan di babak kedua musim. Havertz sering dijadikan solusi darurat, tapi tidak alami sebagai penyerang punggung. Alvarez bisa bergantian dengan Gyokeres, atau bahkan bermain bersamanya dalam formasi 4-4-2 yang berubah jadi 3-4-3 saat menyerang — variasi yang sulit dibaca lawan.
Namun, hambatan terbesar bukan kualitas pemain, melainkan persaingan klub lain. Manchester City, Chelsea, dan Bayern Munich juga dikabarkan memantau perkembangan Alvarez. Arsenal harus bergerak cepat dan menawarkan proyek jangka panjang yang meyakinkan, termasuk jaminan waktu main dan peran sentral di skema Arteta. Keunggulan Arsenal: mereka tidak perlu membayar biaya transfer rekaman seperti untuk Vinicius.
Mikel Arteta dan direktur olahraga Edu Gaspar diketahui sudah lama mengincar profil penyerang serbaguna sejak era Alexis Sanchez. Alvarez menjawab semua kotak kriteria: usia produktif, pengalaman liga besar, mentalitas juara, dan harga wajar. Jika transfer ini terealisasi, Arsenal akan memiliki trio penyerang paling lengkap di Premier League: Gyokeres untuk fisik dan kedalaman, Alvarez untuk kecerdasan ruang dan finishing, Havertz untuk link-up play.
Proyeksi ke depan, keberhasilan merekrut Alvarez bisa menjadi titik balik proyek Arsenal mengejar gelar liga yang tertunda sejak 2004. Kombinasi stabilitas pertahanan William Saliba-Gabriel Magalhaes, kreativitas tengah Bukayo Saka-Martin Odegaard, dan daya giling Alvarez-Gyokeres menciptakan tim yang seimbang di kedua sisi lapangan. Musim panas ini akan menentukan apakah Arsenal benar-benar serius naik level, atau tetap jadi 'hampir juara'.