Peraih tiga gelar Ballon d'Or, Aitana Bonmati, memberikan kritik tajam terhadap kondisi Liga F Spanyol saat ini. Menurut gelandang Barcelona tersebut, kompetisi domestik Spanyol sedang mengalami krisis talenta karena banyaknya pemain bintang yang memilih hengkang ke liga luar negeri yang dianggap memiliki standar jauh lebih kompetitif.
Barcelona memang telah mendominasi sepak bola wanita Spanyol dengan memenangkan tujuh gelar liga berturut-turut. Namun, dominasi ini justru menciptakan anomali. Di saat mereka menjuarai Liga Champions Eropa, mereka justru harus berjuang keras mempertahankan komposisi skuad inti karena daya tarik liga lain, terutama Women's Super League (WSL) di Inggris, jauh lebih menggoda bagi para pemain top.
Bonmati secara terbuka mengakui bahwa Liga F masih tertinggal jauh dari liga-liga elit Eropa lainnya. Ia menekankan bahwa pemain profesional saat ini sangat sadar akan lingkungan yang mampu menunjang perkembangan karier mereka. Ketika sebuah liga tidak memberikan tantangan yang cukup kompetitif setiap pekannya, pemain dengan kualitas dunia cenderung mencari pelabuhan baru.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya hambatan bagi Barcelona di kancah domestik. Sejak 2019, Barcelona tercatat hanya menelan lima kekalahan di liga. Kurangnya persaingan yang ketat membuat level intensitas pertandingan sering kali tidak merata, yang pada akhirnya memicu kebosanan atau stagnasi bagi pemain berlevel dunia.
Fenomena eksodus ini bukanlah hal baru. Nama-nama besar seperti Alexia Putellas, Ona Batlle, hingga Mapi Leon telah berpindah haluan ke Inggris. Bahkan, pemain muda berbakat seperti Salma Paralluelo memilih bergabung dengan Lyon. Tren ini berlanjut dengan kepergian Mariona Caldentey ke Arsenal, serta hengkangnya sejumlah pilar utama dari rival terdekat mereka, Real Madrid, seperti Olga Carmona dan Caroline Weir.
Bagi industri sepak bola secara global, situasi ini menjadi peringatan bahwa dominasi satu klub tidak selalu mencerminkan kesehatan ekosistem liga secara keseluruhan. Tanpa adanya persaingan yang sehat dan merata di antara klub-klub peserta, sebuah liga akan kesulitan menarik minat komersial maupun mempertahankan aset terpenting mereka, yakni para atlet.
Jika melihat konteks di Indonesia, tantangan serupa sebenarnya dihadapi oleh liga-liga profesional yang minim kompetisi. Meskipun sepak bola wanita di Indonesia masih berada dalam tahap pengembangan awal, pelajaran dari Spanyol menunjukkan bahwa investasi pada infrastruktur saja tidak cukup. Dibutuhkan struktur kompetisi yang menantang agar bakat-bakat lokal tidak hanya sekadar bermain, tetapi juga berkembang secara konsisten.
Kesenjangan kualitas yang dikeluhkan Bonmati adalah potret nyata tentang bagaimana daya saing sebuah liga ditentukan oleh kedalaman skuad di setiap tim, bukan hanya oleh satu atau dua klub raksasa. Tanpa adanya perlawanan sengit dari tim-tim lain, sebuah liga akan kehilangan nilai jual di mata pemain internasional maupun penonton.
Bonmati sendiri menyatakan harapannya agar Real Madrid dan klub lainnya bisa segera meningkatkan kualitas skuad mereka. Ia mendambakan kompetisi yang lebih menuntut secara fisik dan taktis, karena itulah cara satu-satunya bagi Liga F untuk naik kelas dan berhenti menjadi 'eksportir' pemain bintang ke liga lain.
Kutipan Bonmati kepada media Marca menjadi sinyal bahaya bagi otoritas sepak bola Spanyol. Ia menegaskan bahwa liga mereka belum menjadi liga papan atas. Pernyataan ini sekaligus menjadi tantangan bagi pengelola liga untuk mereformasi sistem distribusi pendapatan dan regulasi agar persaingan menjadi lebih terbuka.
Ke depan, tren eksodus ini diprediksi akan terus berlanjut jika Liga F tidak mampu menawarkan proyek olahraga yang lebih menjanjikan. Pemain saat ini lebih memilih untuk bermain di liga yang menawarkan tantangan setiap pekan, di mana setiap pertandingan bisa menentukan nasib gelar juara hingga akhir musim.
Langkah selanjutnya bagi Liga F adalah melakukan evaluasi total terhadap bagaimana mereka mengelola daya saing klub-klub papan tengah. Tanpa perubahan struktural yang signifikan, Spanyol akan terus menjadi tempat yang hanya disinggahi oleh pemain untuk berkembang sebelum akhirnya mencari tantangan nyata di liga yang lebih kompetitif dan menantang.