Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) secara resmi menetapkan 15 Juli sebagai hari sepak bola nasional. Keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan atas kemenangan dramatis La Albiceleste melawan Inggris dalam babak semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta, Amerika Serikat.
Dalam laga tersebut, Argentina berhasil melakukan comeback gemilang dengan skor akhir 2-1. Sempat tertinggal lebih dulu melalui gol Inggris pada menit ke-55, skuad asuhan pelatih Argentina menunjukkan mentalitas juara dengan mencetak dua gol balasan masing-masing pada menit ke-85 dan menit ke-90+2. Kemenangan ini bukan sekadar tiket ke final, melainkan simbol kebangkitan nasional bagi rakyat Argentina.
Peran Lionel Messi menjadi sorotan utama dalam laga bersejarah ini. Sang kapten tercatat mengirimkan dua assist krusial yang membalikkan keadaan di masa-masa kritis. Aksi heroik di menit-menit akhir tersebut memicu euforia luar biasa, baik di stadion maupun di seluruh penjuru Argentina yang merayakan kemenangan tersebut sebagai kejayaan bangsa.
Namun, perayaan tersebut tidak lepas dari kontroversi. Seusai peluit panjang berbunyi, sejumlah pemain Argentina membentangkan spanduk bertuliskan 'Las Malvinas son Argentinas'. Tindakan ini merupakan pesan politik terkait sengketa wilayah Kepulauan Falkland yang telah berlangsung selama puluhan tahun antara Argentina dan Inggris.
Meski FIFA dikenal memiliki aturan ketat mengenai netralitas politik dalam sepak bola, Argentina justru menanggapi aksi tersebut sebagai bentuk heroisme. Presiden Argentina, Javier Milei, memberikan dukungan penuh terhadap selebrasi tersebut. Menurutnya, tindakan para pemain adalah bentuk ekspresi yang sah dan tidak melanggar batasan moral sebagai atlet.
Keputusan menetapkan 15 Juli sebagai hari nasional ini mencakup seluruh elemen sepak bola di Argentina. AFA menegaskan bahwa pengakuan ini berlaku bagi tim nasional putra, putri, kelompok umur, futsal, hingga sepak bola pantai. Kompleks pelatihan tim nasional kini menjadi saksi bisu dari nilai historis yang ingin diabadikan oleh federasi.
Bagi publik Indonesia, fenomena ini menunjukkan bagaimana sepak bola bisa menjadi alat diplomasi sekaligus simbol identitas nasional yang sangat kuat. Di tanah air, sepak bola seringkali melampaui batas lapangan hijau, di mana keberhasilan tim nasional mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat di tengah perbedaan pandangan politik.
Namun, politisasi olahraga di Indonesia seringkali berjalan lebih hati-hati. Jika Argentina berani mengambil langkah berisiko dengan menetapkan hari nasional berdasarkan kemenangan di turnamen internasional, Indonesia lebih berfokus pada pembangunan infrastruktur dan pembinaan usia dini sebagai fondasi jangka panjang.
Perbandingan ini menarik untuk dicermati. Argentina menggunakan narasi sejarah dan nasionalisme untuk memperkuat posisi sepak bola sebagai agama kedua. Sementara itu, Indonesia yang sedang berupaya meningkatkan peringkat FIFA, lebih membutuhkan stabilitas kompetisi dan konsistensi prestasi ketimbang narasi politik yang mungkin berisiko memicu sanksi dari otoritas sepak bola dunia.
Presiden AFA menyatakan bahwa kemenangan atas Inggris adalah momentum yang layak dirayakan setiap tahun. Ia menolak anggapan bahwa sepak bola harus dipisahkan sepenuhnya dari narasi kebangsaan, terutama jika kemenangan tersebut memiliki kaitan emosional yang mendalam dengan sejarah negara.
Ke depannya, AFA berencana menjadikan 15 Juli sebagai agenda tahunan yang merayakan nilai-nilai sportivitas sekaligus nasionalisme. Langkah ini kemungkinan besar akan memicu diskusi panjang di lingkup FIFA mengenai sejauh mana federasi nasional boleh menggunakan platform olahraga untuk agenda politik atau sejarah domestik.
Bagi para pengamat olahraga internasional, keputusan Argentina ini bisa menjadi preseden baru. Apakah negara lain akan mengikuti jejak Argentina dalam mengabadikan kemenangan turnamen sebagai hari nasional, atau justru kebijakan ini akan berakhir pada tekanan sanksi administratif dari FIFA yang melarang pesan-pesan politik di dalam lapangan hijau?