Belanda, Prancis - Pebalap muda Belanda Olav Kooij mengukir sejarah pribadi dengan meraih kemenangan etap pertamanya di Tour de France pada Rabu (10/7), mengalahkan sejumlah sprinter senior di finis kacau di Pau. Pebalap tim Decathlon AG2R La Mondiale tersebut memanfaatkan kecelakaan massal di kilometer terakhir yang memecah peloton menjadi beberapa grup, lalu meluncur sendirian menuju garis finis dengan kecepatan luar biasa.
Kemenangan ini datang pada etap kelima yang berjarak 158,3 kilometer dari Lannemezan ke Pau. Sepanjang hari, perlombaan berjalan relatif tenang dengan hanya satu pelarian solo Baptiste Veistroffer (Lotto-Dstny) yang mewarnai aksi di depan. Namun, drama terjadi saat sisa 5,3 kilometer menuju finis: sebuah kecelakaan melibatkan puluhan pebalap di tengah peloton, menghancurkan rencana lead-out tim-tim besar dan menciptakan kekacauan total.
Di tengah kekacauan itu, Kooij justru menemukan jalannya. Tanpa lead-out penuh dari timnya, ia menempel di roda yang tepat — kemungkinan besar roda Tim Merlier (Soudal Quick-Step) — sebelum meluncur dengan tenaga penuh di 200 meter terakhir. Ia menyelesaikan finis dengan margin nyaman di depan Max Kanter (XDS Astana Team) dan Merlier yang harus puas dengan posisi ketiga.
"Setelah beberapa hari berat di sini, saya harus menunggu kesempatan pertama ini. Langsung menang tak terbayangkan," ujar Kooij kepada TNT Sports pasca balapan. "Hari ini cukup mudah hingga finis, jadi saya tahu akan kacau. Sprint pertama di Tour selalu penuh gairah. Saya hanya mencari jalan, agak sendirian di akhir, tapi berhasil menemukan roda yang benar. Saat melihat garis finis, saya pedalkan sekeras mungkin."
Kemenangan Kooij menandai kelahiran bintang sprint baru di panggung terbesar dunia. Berusia 22 tahun, ia sudah memiliki palmarés yang mengesankan di level ProSeries dan WorldTour, termasuk kemenangan etap di Paris-Nice dan Volta ao Algarve tahun ini. Namun, Tour de France adalah level lain. Tekanan, kecepatan, dan kedalaman peloton di sini jauh di atas rata-rata. Fakta bahwa ia bisa menang di debut-nya, di tengah kekacauan, dan tanpa lead-out sempurna, menunjukkan kematangan mental dan insting balap yang langka bagi pebalap usianya.
Sementara itu, pemilik jersey kuning Torstein Traeen (Uno-X Mobility) berhasil mempertahankan kepemimpinan klasemen umum meski terjebak di belakang kecelakaan. Ia finis dalam grup utama bersama kontender klasemen umum seperti Tadej Pogačar (UAE Team Emirates), Jonas Vingegaard (Visma-Lease a Bike), Remco Evenepoel (Soudal Quick-Step), dan pemuda Prancis Paul Seixas (Decathlon AG2R La Mondiale), semua tiba 14 detik di belakang Kooij. Jarak 28 detik Traeen atas Sean Quinn (EF Education-EasyPost) di klasemen umum tetap utuh.
Kecelakaan itu sendiri menyoroti risiko tak terhindarkan di etap datar awal Tour. Jalan sempit, furniture kota, rotasi kecil, dan kehausan semua tim untuk memposisikan sprinter mereka menciptakan ledakan energi di kilometer terakhir. Bagi tim-tim GC, hari seperti ini adalah soal survival. Faktanya, semua favorit klasemen umum tiba bersama-sama menandakan tidak ada kerugian waktu signifikan — tapi ketegangan di peloton pasti meningkat ke depan.
Bagi Kooij, kemenangan ini bukan hanya soal angka di palmarés. Ini adalah pernyataan: ia hadir bukan sekadar peserta, tapi sebagai ancaman nyata bagi sprinter-sprinter etablis seperti Jasper Philipsen, Biniam Girmay, maupun Merlier sendiri. Dengan jadwal etap datar yang masih tersisa di minggu pertama, peluang Kooij menambah koleksi kemenangan terbuka lebar. Tour de France 2024 baru saja menemukan pahlawan sprint barunya.