Arthur Fery, pemenang wildcard Wimbledon berusia 23 tahun, melanjutkan petualangan menakjubkannya di Centre Court hari Jumat, menghadapi Alexander Zverev, pemain nomor dua dunia, di semifinal. Perjalanan sang pemain asal Prancis yang dibesarkan di Wimbledon ini hampir melingkar sempurna: dari anak berusia empat tahun yang pertama kali memegang raket di Westside Tennis Club, hanya sedikit lebih dari satu mil dari All England Club, hingga kini berdiri di panggung paling bergengsi tenis dunia.
Lahir di Sèvres, Prancis, Fery pindah ke London sebelum genap berusia satu tahun. Bakat tenisnya diwarisi dari ibu, Olivia, yang pernah berkompetisi di ganda putri French Open 1991 dan Fed Cup. Ayahnya, Loïc, adalah seorang finansier yang juga memiliki klub sepak bola Ligue 1 Prancis, FC Lorient. Latar belakang keluarga yang kaya akan pengalaman olahraga elit ini memberikan fondasi mental dan teknis yang solid bagi Fery sejak dini.
Pengembangan karir Fery mengambil jalur yang tidak konvensional. Alih-alih mengikuti sirkuit junior internasional yang melelahkan, pelatihnya Craig Veal dan Benoit Foucher memutuskan untuk membiarkannya bermain melawan pemain dewasa di Inggris. Keputusan ini terbukti bijak: saat berusia 16 tahun, ranking junior Fery melonjak pesat, mencapai posisi 12 dunia dan meraih gelar ganda di Australian Open dan Wimbledon junior.
Pada usia 18 tahun, Fery memilih jalur kuliah di Stanford University, California, mengambil jurusan Science, Technology, and Society. Di bawah bimbingan pelatih Brandon Coupe, ia berkembang menjadi pemain nomor satu sistem kolase AS, pertama kali sejak legenda ganda Bob Bryan. Pengalaman bermain di atmosfer kolase yang penuh tekanan dan kebisingan melatih ketahanan mentalnya, yang kini terlihat di panggung profesional.
Namun, perjalanan ke puncak tidak luput dari rintangan fisik. Fery menderita 'bone bruising' pada lengan, cedera serupa yang pernah menghantam rekan senegaranya, Jack Draper. Kondisi ini mendorongnya untuk menginvestasikan hadiah uang Australian Open sebesar £115.000 ke dalam tim medis penuh dan pakar biomekanika untuk memodifikasi servisnya. Hasilnya, servis baru yang lebih efisien secara biomekanis telah membebaskannya dari rasa sakit dan menjadi senjata andalan.
Di bawah bimbingan pelatih Jeroen Benard selama setahun terakhir, Fery memadukan gerakan kaki yang luar biasa, sentuhan halus, dan kemampuan transisi dari pertahanan ke serangan yang menjadi ciri khas gaya mainnya sejak era junior. Keunggulan fisiknya meski tinggi badan hanya 175 cm membuktikan bahwa kecerdasan lapangan dan teknik dapat mengkompensasi keterbatasan fisik.
Kemenangan dramatis Fery di ronde sebelumnya, termasuk comeback dari 0-2 set kehilangan, menunjukkan mentalitas baja yang dikembangkan sejak masa kuliah. "Anak ini punya es di urat nadi," ujar Coupe, pelatihnya di Stanford. Ketenangan di bawah tekanan menjadi diferensiasi kunci saat menghadapi pemain top dunia di Centre Court.
Pertemuan dengan Zverev di semifinal merupakan ujian tertinggi. Jerman berusia 27 tahun ini adalah finalis Grand Slam berpengalaman dengan servis kuat dan game baseline yang dominan. Bagi Fery, ini bukan hanya tentang kemenangan, tapi membuktikan bahwa model pengembangan pemain Inggris — yang memprioritaskan kesabaran, pendidikan, dan manajemen cedera jangka panjang — dapat menghasilkan bintang dunia.
Sukses Fery memberikan harapan baru bagi tenis Inggris pasca-era Andy Murray. Dengan Jack Draper yang juga naik ke top 15, dan kini Fery yang menerobos ke semifinal Wimbledon sebagai wildcard, sistem pengembangan LTA (Lawn Tennis Association) mulai menunjukkan buah. Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Fery mengingatkan bahwa jalur ke puncak tidak harus instan; kesabaran, pendidikan, dan manajemen cedera yang cerdas bisa jadi kunci keberlangsungan karir.